Enam bulan telah lewat sejak pertemuan terakhir dengan Bram. Paling tidak dua tiga bulan sekali, Rosa ke Yogya untuk mengurus pemasaran pakaian jadinya. Dengan Barm, dia belum menceritakan kisah masa lalunya bersama Dedi. Asmara yang menggebu yang akhirnya kandas dalam perkawinan yang gagal. Tetapi lega rasanya telah menyampaikan kondisi yang sebenarnya tentang dirinya. Tentang Tita. Bahwa dia seorang janda. Terhempas dalam perjalanan perkawinan. Tak ada beban lagi. Apapun yang terjadi akan dihadapi dengan tenang. Tak ada yang perlu ditutupi. Inilah saya. Inilah Rosa bersama Tita.
Kadang terbersit kegetiran, mengapa tak ada kabar dari Bram? Mungkin dia kecewa mengetahui dirinya seorang janda ? Tak tahulah. Mungkin juga sedang sibuk menyelesaikan ujian akhirnya. Secara tak sadar dia mengharap sesuatu. Menanti kabar dari Bram. Menunggu sepucuk suratnya. Ingin rasanya menulis sesuatu. Tetapi nalurinya mengingatkan untuk menahan diri. Biarlah, apa yang terjadi, terjadilah. Apapun yang akan datang akan diterima dengan sabar. Mencoba sabar setelah menyadari dia terburu buru dalam kisah asmara menggebu sebelumnya.
Kegagalan rumah tangga Rosa tak hanya berdampak terhadap kehidupan pribadinya. Juga ke keluarganya. Bapak Kusuma, ayahnya seolah tak lagi bersemangat mengembangkan usahanya. Pabrik tekstil yang dirintis bertahun tahun dan mulai berkembang, lebih banyak dikendalikan oleh isteri bersama anak lelakinya Iwan. Iwan sebenarnya masih kuliah. Tetapi dia juga kurangi kegiatan akademiknya dan lebih banyak terlibat dalam pengelolaan perusahaan. Membantu mamanya. Sementara Rosa semakin menekuni produksi pakaian anak. Membutuhkan perhatian khusus. Dalam sebulan paling tidak selama seminggu dia harus mengunjungi toko toko pelanggannya di berbagai kota. Tita sudah terbiasa ditinggal sang mama. Dia dekat dengan bibik Irah, dengan Oom Iwan dan dengan oma dan opa.
Suatu sore rosa dan mamanya duduk duduk di depan pavillion. Menikmati udara sore hari sambil minum teh.
" Rosa, Dedi tak pernah menanyakan kabar anaknya?'
" Tidak ma. Saya senang tak ada komunikasi. Status sudah jelas. Dia tak ingin diganggu dan memutuskan hubungan"
"Apakah kau tak bermaksud kontak dengan orang tua Dedi di Jakarta ?"
"Biarlah ma. Saya memang tak berminat sama sekali. Tak ada kata kata sewaktu saya melahirkan Tita. Tak ada berita sewaktu ayah Tita pergi ke Australia. Ini semua sudah menjadi garis perjalanan hidup saya bersama Tita"
" Hati hati selalu nak. Saya dan ayahmu masih sedih melihat semua ini. Lihatlah papamu jadi begitu pendiam sekarang".
"Papa sama mama tak perlu terlalu sedih memikirkan saya. Bukankah saya telah bangkit? Usaha saya sangat berkembang. Dan saya sangat bahagia. Semua untuk Tita".
"Teman baru mu dari Yogya, Bram, gimana kabarnya?"
Rosa terkejut mendengar pertanyaan itu. Tak menyangka mamanya menanyakan masalah itu. Dalam hatinya yang dalam, terbersit harapan bertemu kembali dengan Bram. Dalam suasana yang lebih tenang. Ingin bicara dan membuka semuanya. Semua tentang masa lalunya.
"Bung Bram sedang sibuk ma. Menyelesaikan ujian akhirnya. Saya juga menunggu berita darinya. Moga moga telah beres semuanya".
"Hati hati nak. Jangan terlalu menaruh harapan. Dunia tak selalu seperti yang kita harapkan".
"Papa sekarang kok diam sekali ya ma. Kasihan dia"
"Dia terpukul benar dengan kegagalanmu. Kamu anak kesayangannya. Kebanggaannya. Dia akan bahagia melihatmu bahagia. Jangan mengeluh ke papamu".
"Enggak ma. Saya telah menerima semuanya. Melupakan semuanya. Hanya melihat ke depan".
Percakapan sekilas dengan mamanya memberi kesadaran yang dalam buat Rosa. Dia tak ingin melihat apa dan mamanya terbebani karena dia. Dia mantap ingin menunjukkan kalau dirinya kuat. Menjalani perjalanan hidup yang berat ke depan. Esok hari sesudah percakapan itu, sepucuk surat datang dari Yogya. Dari Bram. Kabar yang ditunggu tunggu selama ini. Dia berdebar. Gembira menerima surat itu. Dia baca dengan tenang di malam hari setelah Tita tidur. Dengan tenang. Apapun isinya. Tulisan tangan yang indah tertuang dalam kertas warna jambon lembut. Hatinya berdesir membaca kata demi kata dalam surat itu.
Salam hangat buat Rosa,
Lama aku ingin menulis sesuatu buatmu. Namur maaf saya selalu ragu untuk mengirimnya. Ragu bagaimana mengungkapkan pikiran dan perasaan saya dalam surat. Inilah surat saya yang pertama. Moga moga kau membacanya dalam suasana yang tenang. Terima kasih sekali atas surat yang kau kirimkan beberapa bulan lalu. Saya masih baca berulang kali. Sambil membayangkan wajahmu yang indah.
Dari mana saya harus mulai surat ini ? Saya ingin sejak dari awal. Sejak kita berkenalan. Saya merasa begitu bahagia ketika berjumpa dan berkenalan denganmu. Dalam perjalanan malam ke Bandung. Banyak harapan dan impian datang dalam benak saya. Mengenai hubungan kita selanjutnya. Ingin berjalan bersamamu menatap masa depan. Melintasi kegelapan malam menatap esok hari yang indah. Seolah perjalanan malam itu menggambarkan kelanjutan persahabatan kita. Saya berharap dan berimaginasi. Impian dan harapan ini yang membawa saya melakukan sesuatu yang tak patut malam itu. Mohon maaf sekali lagi. Saya melakukannya bukan karena iseng. Saya lakukan itu dengan impian indah dan harapan perjalanan ke depan. Dengan penuh rasa hormat dan penghargaan buatmu.
Rosa,
Tak banyak waktu kita untuk saling mengenal lebih dalam. Juga tak banyak kesempatan untuk memikirkan masa depan persahabatan kita. Tetapi rasa kekaguman dan kedekatan saya tak terusik sedikitpun saat kau menceritakan tentang Tita. Tentang dirimu. Kekaguman saya tak akan lekang oleh panas. Tak akan lapuk oleh hujan. Abadi sepanjang masa. Hanya keraguan bagaimana melewati banyak pertanyaan dan ketidak mengertian. Dari keluarga. Dari kerabat dan sahabat. Saya akan mencobanya dan akan datang padamu.
Saya baru saja menyelesaikan pendidikan saya. Minggu kemarin baru saja pendadaran. Seolah mengharapkan kau menemani saat pendadaran itu. Walau kita hanya sahabat. Persahabatan yang moga moga berkembang abadi untuk hidup kita bersama. Saya akan segera mencari pekerjaan. Minggu minggu ke depan akan ke Jakarta. Saya akan sempatkan ke Bandung dan menemuimu. Banyak hal yang perlu kita bicarakan. Mungkin belum bisa kita putuskan. Tak perlu tergesa kan ? Tak ada yang mengejar. Kita bicara tentang perjalanan panjang. Perjalanan hidup menyusur waktu ke masa depan.
Salam hangat dari Yogya.
Bram
Friday, April 17, 2009
Thursday, April 9, 2009
(13) Selamat tinggal kesunyian
Dari hari ke hari, Rosa hanya menanti. Menanti kedatangan Dedi sebelum berangkat ke Australia. Ingin mendengar kata kata dan selamat tinggal. Dia ingin memeluknya dan membisikkan kata kata mesra perpisahan. Dia akan menunggu. Dia akan mendoakan keberhasilan Dedi demi kebahagiaan mereka bertiga. Namun sampai hari keberangkatannya. Dedi tak pernah muncul. Tak ada kata perpisahan. Tak juga lewat telepon. Rosa tetap menunggu dalam kesunyian yang dalam. .Namun dia terhibur karena Tita. Hanya bersama Tita dia menyelami hari hari yang sunyi. Kira kira sebulan kemudian, dia menerima kiriman warkat pos. Alamat pengirim tak jelas. Dari NewCastle, Australia. Ternyata dari Dedi. Isinya singkat dan jelas.
Rosa sayang,
Maaf jika saya tak sempat datang ke Bandung sebelum berangkat. Sampai detik detik terakhir sebelum keberangkatan, saya masih begitu sibuk menyelesaikan dokumen dokumen kontrak di kantor. Bahkan saya tak sempat pamitan dengan mama dan papa. Mereka sedang keluar kota. Hanya bicara lewat tilpon. Moga moga anda dan Tita selalu sehat sehat saja. Sampaikan maaf saya ke papa dan mamamu. Juga ke Iwan. Mohon maaf jika saya tak sempat pamitan ke mereka. Perpisahan ini hanya sementara. Walau mungkin akan lama. Paling tidak dua tahun. Saya akan mencoba pulang menengokmu setelah setahun menjalani program. Saya harap Rosa bisa mengerti situasi yang saya hadapi. Semua demi kebahagiaan kita bersama.
Sayang selalu untukmu dan untuk Tita,
Salam dari Newcastle,
Dedi.
Rosa membaca pesan itu dengan tenang. Ada kekecewaan yang dalam. Namur perasaan itu diredamnya dalam dalam. Dia tak lagi menangis dan merasa sedih. Rasa jengkel dan marah mulai marayap dalam hatinya. "Tega benar dia meninggalkan saya dan Tita tanpa kata perpisahan". Semua kekecewaan, jengkel dan marah diredam dalam hati. Dia hanya diam.
"Kok Dedi tak datang datang lagi Rosa? Baik baik kan semuanya?" Mamanya suatu sore bertanya.
" Iya ma mungkin saja sedang sibuk pekerjaan"
"Sibuk sih bisa saja. Tetapi masak nggak kasih kabar sedikitpun?"
Rosa tak bisa berucap apa apa. Hanya membisu. Matanya berkaca kaca. Tak bisa mengendalikan.
"Ada apa nak? Ada sesuatu yang nggak beres? Katakan apa adanya".
"Ma, kak Dedi ke Australia sudah sebulan ini. Mungkin lama karena ambil program paska di sana"
"Apa katamu? Dia ke Australia? Mengapa nggak pamitan sama mama dan papamu?. Dia bilang sama kau?"
"Iya ma, waktu ke sini bulan lalu, dia bilang singkat. Saya pikir dia masih akan datang ke sini untuk pamitan".
"Moga moga semuanya baik baik saja nak. Tetapi keterlaluan. Tak ada kata sepatahpun untuk papa dan mamamu"
"Dia mohon maaf ma untuk mama dan papa. Katanya tak sempat pamitan. Juga tak sempat pamit sama papa dan mamanya. Sangat sibuk sampai menjelang berangkat".
"Pekerjaan memang tak akan ada habisnya kalau dituruti. Tetapi tak harus melupakan keluarga, tak harus melupakan anak isteri".
'Saya baru terima suratnya dari NewCastle hari ini ma. Saya siap sendirian dalam waktu yang lama. Bersama Tita".
"Saya akan bilang sama papamu. Kau harus tegar dan tabah nak. Jangan gampang menyerah".
***
Bulan berganti bulan. Irama hidup sehari hari berjalan seperti sedia kala. Rosa masih sempat mengikuti kegiatan perkuliahan. Tidak teratur seperti dulu. Dia harus meluangkan waktu untuk Tita. Kadang kadang berita datang dari Dedi. Cuma singkat mengabarkan bahwa semuanya berjalan baik. Tak banyak menanyakan keadaan Tita. Kadang berbulan bulan tak ada berita. Rosa juga tak berminat mencari tahu atau menghubungi. Juga tak mencoba menghubungi papa dan mama Dedi di Jakarta. Bulan bulan pertama Rosa kadang kadang mencoba tilpon orang tua Dedi. Tetapi pembicaraan terasa kaku. Sama sekali tak akrab. Mungkin dia sendiri yang merasa tak bisa akrab. Tak tahulah.
Rosa menyadari kalau dia tak bisa sekedar mengharapkan hidup dari papa dan mama. Dia ingin mandiri, paling tidak mempunyai sesuatu sendiri. Meski sebenarnya papa dan mamanya tak mengharapkannya. Mereka tak kekurangan materi sedikitpun. Mama dan papanya punya pabrik tekstil yang sudah berjalan. Rosa akhirnya memutuskan memulai usaha sendiri. Usaha pakaian jadi. Membuat pakaian anak anak. Mungkin karena dia selalu memikirkan pakaian untuk Tita. Dia berpikir, kalau bisa memproduksi sendiri pakaian anak. Mulai usaha kecil kecilan. Dia mulai menggaji beberapa pegawai dan menggunakan ruang pavillion samping untuk tempat usaha. Papa dan mamanya sangat mendukung dan selalu memberikan pendapat bagaimana meningkatkan mutu dan memasarkan pakaian jadinya.
Hampir terlupakan kesunyian yang selama ini membayangi. Lewat setahun setelah kepergian Dedi, tiba tiba saja di satu siang sehabis makan siang dia menerima suratnya. Isinya singkat tetapi mengubah jalan hidupnya ke depan.
Rosa yang baik,
Semoga kau dan Tita selalu dalam keadaan baik di Bandung. Saya di NewCastle juga selalu dalam keadaan baik. Lama saya tak memberi kabar. Memang sangat sibuk menghadapi kuliah. Tetapi ada sesuatu yang membuatku lama tak menulis. Semakin lama saya semakin menyadari jika kita mungkin tak bisa berjalan bersama. Selama ini saya hanya mengejar cita cita masa depan saya sendiri. Tak banyak memperhatikanmu dan Tita. Saya merasa tak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami dan seorang ayah. Biarlah saya pasrah menerima keadaan ini. Rosa, semoga kau bisa memperoleh kebahagiaan walau tanpa aku. Kerjarlah cita cita dan kebahagiaanmu. Mungkin suatu saat kita akan bertemu dalam keadaan yang leih baik.
Salam dari New Castle, Dedi.
Surat itu dibacanya dengan tenang.. Tak ada kesedihan karenanya. Tak ada dendam dan kemarahan. Dia semakin mantap untuk bekerja keras mengembangkan usahanya demi anaknya . Demi Tita. Dia sudah duduk di tahun ketiga fakultas ekonomi ketika harus memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah. Demi anak dan demi kelancaran usahanya. Tak bisa semuany dijangkau pada saat yang sama. Harus mengambil keputusan mana yang perlu diprioritaskan. Proses perpisahan dengan Dedi berjalan lancar walau makan waktu lama. Dia juga tak banyak menuntut. Dia merasa mampu sendiri melakukan segalanya demi masa depan Tita. Tak perlu mengharapkan uluran Dedi.
Semuanya menjadi cerita masa lalu Dia ingin melupakannya. Dia hanya ingin melihat ke depan. Apapun jadinya. Usaha pakaian jadinya dia kembangkan. Dia buka workshop untuk memproduksi pakaian jadi khusus pakaian anak. Dia beri merk produknya Titania. Semuanya demi Tita. Selamat tinggal kesunyian. Selamat tinggal kepedihan.
Rosa sayang,
Maaf jika saya tak sempat datang ke Bandung sebelum berangkat. Sampai detik detik terakhir sebelum keberangkatan, saya masih begitu sibuk menyelesaikan dokumen dokumen kontrak di kantor. Bahkan saya tak sempat pamitan dengan mama dan papa. Mereka sedang keluar kota. Hanya bicara lewat tilpon. Moga moga anda dan Tita selalu sehat sehat saja. Sampaikan maaf saya ke papa dan mamamu. Juga ke Iwan. Mohon maaf jika saya tak sempat pamitan ke mereka. Perpisahan ini hanya sementara. Walau mungkin akan lama. Paling tidak dua tahun. Saya akan mencoba pulang menengokmu setelah setahun menjalani program. Saya harap Rosa bisa mengerti situasi yang saya hadapi. Semua demi kebahagiaan kita bersama.
Sayang selalu untukmu dan untuk Tita,
Salam dari Newcastle,
Dedi.
Rosa membaca pesan itu dengan tenang. Ada kekecewaan yang dalam. Namur perasaan itu diredamnya dalam dalam. Dia tak lagi menangis dan merasa sedih. Rasa jengkel dan marah mulai marayap dalam hatinya. "Tega benar dia meninggalkan saya dan Tita tanpa kata perpisahan". Semua kekecewaan, jengkel dan marah diredam dalam hati. Dia hanya diam.
"Kok Dedi tak datang datang lagi Rosa? Baik baik kan semuanya?" Mamanya suatu sore bertanya.
" Iya ma mungkin saja sedang sibuk pekerjaan"
"Sibuk sih bisa saja. Tetapi masak nggak kasih kabar sedikitpun?"
Rosa tak bisa berucap apa apa. Hanya membisu. Matanya berkaca kaca. Tak bisa mengendalikan.
"Ada apa nak? Ada sesuatu yang nggak beres? Katakan apa adanya".
"Ma, kak Dedi ke Australia sudah sebulan ini. Mungkin lama karena ambil program paska di sana"
"Apa katamu? Dia ke Australia? Mengapa nggak pamitan sama mama dan papamu?. Dia bilang sama kau?"
"Iya ma, waktu ke sini bulan lalu, dia bilang singkat. Saya pikir dia masih akan datang ke sini untuk pamitan".
"Moga moga semuanya baik baik saja nak. Tetapi keterlaluan. Tak ada kata sepatahpun untuk papa dan mamamu"
"Dia mohon maaf ma untuk mama dan papa. Katanya tak sempat pamitan. Juga tak sempat pamit sama papa dan mamanya. Sangat sibuk sampai menjelang berangkat".
"Pekerjaan memang tak akan ada habisnya kalau dituruti. Tetapi tak harus melupakan keluarga, tak harus melupakan anak isteri".
'Saya baru terima suratnya dari NewCastle hari ini ma. Saya siap sendirian dalam waktu yang lama. Bersama Tita".
"Saya akan bilang sama papamu. Kau harus tegar dan tabah nak. Jangan gampang menyerah".
***
Bulan berganti bulan. Irama hidup sehari hari berjalan seperti sedia kala. Rosa masih sempat mengikuti kegiatan perkuliahan. Tidak teratur seperti dulu. Dia harus meluangkan waktu untuk Tita. Kadang kadang berita datang dari Dedi. Cuma singkat mengabarkan bahwa semuanya berjalan baik. Tak banyak menanyakan keadaan Tita. Kadang berbulan bulan tak ada berita. Rosa juga tak berminat mencari tahu atau menghubungi. Juga tak mencoba menghubungi papa dan mama Dedi di Jakarta. Bulan bulan pertama Rosa kadang kadang mencoba tilpon orang tua Dedi. Tetapi pembicaraan terasa kaku. Sama sekali tak akrab. Mungkin dia sendiri yang merasa tak bisa akrab. Tak tahulah.
Rosa menyadari kalau dia tak bisa sekedar mengharapkan hidup dari papa dan mama. Dia ingin mandiri, paling tidak mempunyai sesuatu sendiri. Meski sebenarnya papa dan mamanya tak mengharapkannya. Mereka tak kekurangan materi sedikitpun. Mama dan papanya punya pabrik tekstil yang sudah berjalan. Rosa akhirnya memutuskan memulai usaha sendiri. Usaha pakaian jadi. Membuat pakaian anak anak. Mungkin karena dia selalu memikirkan pakaian untuk Tita. Dia berpikir, kalau bisa memproduksi sendiri pakaian anak. Mulai usaha kecil kecilan. Dia mulai menggaji beberapa pegawai dan menggunakan ruang pavillion samping untuk tempat usaha. Papa dan mamanya sangat mendukung dan selalu memberikan pendapat bagaimana meningkatkan mutu dan memasarkan pakaian jadinya.
Hampir terlupakan kesunyian yang selama ini membayangi. Lewat setahun setelah kepergian Dedi, tiba tiba saja di satu siang sehabis makan siang dia menerima suratnya. Isinya singkat tetapi mengubah jalan hidupnya ke depan.
Rosa yang baik,
Semoga kau dan Tita selalu dalam keadaan baik di Bandung. Saya di NewCastle juga selalu dalam keadaan baik. Lama saya tak memberi kabar. Memang sangat sibuk menghadapi kuliah. Tetapi ada sesuatu yang membuatku lama tak menulis. Semakin lama saya semakin menyadari jika kita mungkin tak bisa berjalan bersama. Selama ini saya hanya mengejar cita cita masa depan saya sendiri. Tak banyak memperhatikanmu dan Tita. Saya merasa tak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami dan seorang ayah. Biarlah saya pasrah menerima keadaan ini. Rosa, semoga kau bisa memperoleh kebahagiaan walau tanpa aku. Kerjarlah cita cita dan kebahagiaanmu. Mungkin suatu saat kita akan bertemu dalam keadaan yang leih baik.
Salam dari New Castle, Dedi.
Surat itu dibacanya dengan tenang.. Tak ada kesedihan karenanya. Tak ada dendam dan kemarahan. Dia semakin mantap untuk bekerja keras mengembangkan usahanya demi anaknya . Demi Tita. Dia sudah duduk di tahun ketiga fakultas ekonomi ketika harus memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah. Demi anak dan demi kelancaran usahanya. Tak bisa semuany dijangkau pada saat yang sama. Harus mengambil keputusan mana yang perlu diprioritaskan. Proses perpisahan dengan Dedi berjalan lancar walau makan waktu lama. Dia juga tak banyak menuntut. Dia merasa mampu sendiri melakukan segalanya demi masa depan Tita. Tak perlu mengharapkan uluran Dedi.
Semuanya menjadi cerita masa lalu Dia ingin melupakannya. Dia hanya ingin melihat ke depan. Apapun jadinya. Usaha pakaian jadinya dia kembangkan. Dia buka workshop untuk memproduksi pakaian jadi khusus pakaian anak. Dia beri merk produknya Titania. Semuanya demi Tita. Selamat tinggal kesunyian. Selamat tinggal kepedihan.
(12) Akhir sebuah impian
Beberapa bulan setelah melangsungkan pernikahan, Dedi lulus dan menyandang gelar sarjana ekonomi. Rosa sangat bangga dengan keberhasilan sang suami. Dia yakin benar, cita cita masa depannya menjadi wanita karier atau pengusaha sukses bisa tetap di kejar walaupun dia telah berkeluarga. Dia menaruh harapan bahwa Dedi akan mendorong dan memberikan bimbingan baginya berjalan ke depan. Suatu sore Dedi mengutarakan rencana mengejutkan. Dia akan kembali ke Jakarta. Bergabung dengan perusahaan papanya.
"Rosa, kesempatan untuk bergerak di Bandung sangat terbatas. Saya tak berani memulai dari nol di sini"
"Kak semuanya harus sabar. Tak ada yang turun dari langit. Kita mulai sedikit demi sedikit di sini. Kita berdua berusaha".
"Papa sama mama penginnya saya bergabung dengan perusahaan papa. Sedang investasi besar besaran untuk perluasan"
Papa Dedi punya banyak perusahaan. Bergerak di berbagai bidang. Import ekspor, distributor, supplier barang barang kebutuhan kantor beberapa departemen pemerintah.
"Jika begitu apa saya berhenti kuliah dan pindah Jakarta?".
" Lebih baik kau meneruskan kuliah di Bandung Rosa. Saya akan balik tiap dua minggu. Nanti kalau semua sudah mapan. Jika anak kita lahir pindah ke Jakarta".
***
Tak ada pertanda jelek pada awalnya. Dedi selalu menengok datang ke Bandung setiap dua minggu. Jum'at malam sampai Bandung, Senin pagi berangkat Jakarta. Kehidupan mereka normal normal saja. Biasa banyak pasangan penganten baru yang harus hidup terpisah beberapa saat. Menunggu sampai pekerjaan stabil. Rosa masih terus mengikuti perkuliahan meskipun perutnya semakin membesar. Hanya kegiatan diskusi dan kelompok belajar dia tak bisa ikut. Sore hari penginnya istirahat di rumah. Dia rajin membaca bahan kuliah.
Menjelang umur kehamilan ke tujuh, Dedi agak jarang datang ke Bandung. Alasannya sibuk, pekerjaan tak bisa ditinggalkan. Sering harus pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan. Rosa tak begitu merisaukan walau kadang sering merasa sepi. Dia hanya bicara dengan suaminya lewat tilpon, kalau tidak sedang bepergian. Rasanya pengin sekali dia ikut ke Jakarta. Tetapi Dedi selalu bilang, kalau di Jakarta suasana nggak enak. Lari ke sana kemari. Dia akan kesepian jika ikut ke Jakarta. Memang sejak pernikahan itu, Rosa belum sekalipun diajak ke Jakarta. Pengin dia bertemu dengan mertua, papa dan mama Dedi serta adik adiknya. Rosa hanya bisa mengiyakan meskipun dia sebenarnya pengin sekali ikut hijrah ke Jakarta. Dia pupus harapannya, inilah pengorbanan demi kebahagiaan bersama, demi masa depan dan demi anak yang dikandungnya. Semua pasangan baru pasti mengalami masa masa sulit untuk meniti perjalanan ke depan. Belum mapan. Semuanya masih berjuang untuk menata kehidupan berumah tangga.
Saat saat menjelang kelahiran bayinya, Rosa semakin rajin menilpun Dedi. Dua minggu sebelum hari perhitungan lahir, dia ingatkan agar siap siap menunggu kelahiran bayi mereka. Dedi memang mengiyakan akan datang ke Bandung waktu itu. Tetapi kemudian dia bilang bahwa ada jadual pekerjaan yang tak bisa ditinggal'
" Minggu depan saya harus ke Medan dan Pekan Baru. Ada kontrak yang harus dibicarakan tuntas sebelum ditanda tangani".
"Apakah tidak ada orang lain yang bisa mewakili perusahaan kak. Saya butuh kau bersama di sini?"
"Saya usahakan semaksimal mungkin Rosa. Hanya papa, mama atau saya yang bisa menuntaskan urusan ini. Papa ada janji dengan mitra investor Korea. Mereka juga akan datang dalam waktu bersamaan".
"Gimana saya mesti bilang sama mama dan papa jira kak Dedi nggak menunggu saya melahirkan? Rosa hampir terisak dalam tilpon. Dia tak bisa percaya kalau pekerjaan bisa demikian menyita kehidupan suazi isteri.
"Sampaikan maaf saya untuk papa dan mama. Saya akan datang secepat mungkin sesudah urusan selesai semuanya".
Tak semuanya dikatakan ke papa dan mamanya. Semua dipendam dan dirasakan sendiri. Hanya dia bilang sambil lalu kalau Dedi sedang sibuk luar biasa karena pekerjaannya. Agar papa dan mamanya tidak terkejut betul jika Dedi tak menunggu saat dia melahirkan nanti. Ketika waktu melahirkan datang, hanya adiknya Iwan yang ada di dekatnya. Rosa diantar Iwan ke rumah sakit bersalin. Mama dan papanya menyusul kemudian. Mereka baru membereskan urusan pabrik textil yang tengah mulai berproduksi di daerah Bandung selatan. Rosa minta Iwan menghubungi Dedi, namur tak pernah berhasil bicara langsung dengan dia. Iwan hanya meninggalkan pesan kalau kakaknya Rosa di rumah sakit akan melahirkan.
Hari Sabtu sore, Rosa akhirnya melahirkan dengan selamat. Semua lancar. Semua cerah secerah hawa Bandung sore hari. Seolah semua bahagia menyambut kedatangan bayi yang dikandung. Tetapi hati Rosa tetap gundah. Dedi tak juga muncul. Tak ada tilpun. Tak ada pesan. Iwan ikut merasakan kesenduan kakaknya. Tetapi dia hanya berdiam diri. Ketika kedua orang tuanya hadir di rumah sakit, Rosa tak mengungkapkan gejolak hatinya.
"Tak ada berita dari suamimu?" papanya bertanya.
"Mungkin masih di Medan pa. Tetapi Iwan sudah meninggalkan pesan lewat tilpon di rumahnya".
"Moga moga dia cepat menghubungimu'.
"Tak apa, tak ada yang perlu tergesa gesa. Moga moga saja kak Dedi cepat datang dan lihat anaknya".
"Tak semua ayah bisa menunggu kelahiran anak pertama. Banyak peristiwa terjadi bersamaan. Tetapi moga moga dia cepat datang Rosa".
Mama hanya berdiam diri. Dia memendam kekecewaan yang dalam. Tak suka dia memperlihatkannya. Hanya berdiam diri. Mencoba menghibur Rosa sebaik mungkin. Hari Senin pagi, Rosa kembali ke rumah bersama bayinya. Dia sudah siap dan merasa mantap menimang dan membesarkan bayinya sendirian. Jika memang harus demikian. apa boleh buat. Tak bisa berandai andai menunggu. Mungkin saja Dedi memang belum siap menerima kenyataan menjadi seorang ayah. Dengan persetujuan papa dan mamanya dia beri nama anaknya Titania Puspasari.
Hari Sabtu sore, Dedi akhirnya datang.. Naik suburban 4848. Wajahnya nampak lelah dan kuyu. Tak menyiratkan kegembiraan.
" Maaf saya tak bisa tilpon dari Pekan Baru Rosa. Hubungan telepon tak lancar. Saya terima pesan Iwan waktu tiba di Jakarta. Langsung ke sini".
"Semuanya lancar kak. Hanya papa sama mama yang menanyakan kak Dedi. Saya beri nama Tita. Titania Puspasari"
"Nama yang indah. Dia cantik seperti kau" Dedi memandang sekilas bayi di ranjang.
"Kak kapan saya bisa ikut pindah ke Jakarta?. Kan sesudah melahirkan, kita rencana pindah Jakarta".
"Tak usah tergesa Rosa. Biar Tita agak besar sedikit. Supaya nggak repot nanti"
"Kita akan tinggal bersama keluarga papa dan mama atau mau kontrak rumah sendiri nanti?'
"Mungkin tinggal bersama papa dan mama sementara".
Hanya semalam Dedi menunggu Rosa. Hari Minggu siang dia harus kembali ke Jakarta. Hari Senin ada acara rapat di kantor. Rosa mencoba menahannya untuk tinggal beberapa hari lagi. Tak bisa meninggalkan pekerjaan katanya. Tak ada orang yang bisa menggantikannya di kantor. Dedi lebih banyak merenung selama di bandung. Tak sempat ke luar kemana mana. Hanya diam di kamar bertiga dengan bayi Tita. Semalam sempat bicara sebentar dengan papa dan mama. Mereka menanyakan gimana rencana lebih lanjut. Dedi menjawab jika belum punya rencana pasti.
Pagi menjelang keberangkatan ke Jakarta Dedi ingin membicarakan sesuatu dengan Rosa.
"Rosa, ada sesuatu yang musti saya beritahukan padamu."
"Apakah menyangkut kita bertiga?"
"Ya sedikit banyak menyangkut kita sekeluarga. Masa depan kita bersama"
"Katakan jira saya bisa membantumu kak"
"Sebenarnya sudah rencana lama. Tetapi saya tak pernah mengungkapkannya padamu. Saya ingin menempuh program paska sarjana di Australia"
"Berarti harus pisah jauh beberapa tahun kak. Paling tidak kan dua atau tiga tahun. Ada kemungkinan kami ikut nanti?".
"Iya paling tidak dua tahun. Saya tak tahu nanti mungkin kamu bisa menyusul bersama Tita. Tetapi bukan saat saat awal ini".
"Kapan rencana berangkat ?"
" Kira kira dua minggu lagi. Surat panggilannya baru saya terima saat kembali dari Pekan Baru kemarin".
Rosa tak bisa menutupi rasa sedihnya. Dia hanya menangis lirih. Dia ingin hidup seperti kebanyakan keluarga baru. Hudp bersama dan menikmati kebahagiaan. Bukan masalah uang semata. Dia tak pernah merasa kekurangan. Tetapi ketersendirian tanpa kebersamaan dengan suami itulah yang menyiksanya. Dia peluk suaminya dan menangis lirio di dada Dedi. Kesunyian yang mencekam. Keduanya tenggelam dalam perasaan masing masing.
"Sebelum berangkat, usahakan ke sini dulu ya kak. Juga pamit sama papa dan mama".
"Saya belum mengatakannya ke papa dan mamamu. Mungkin besok saja kalau mau berangkat ya".
Siang itu dia mengantar Dedi sampai pintu halaman. Dia seolah merasakan kehilangan orang yang diicintainya. Untuk masa yang lama.
"Ah moga moga ada jalan. Mungkin juga ini jalan terbaik untuk kami bertiga".
"Rosa, kesempatan untuk bergerak di Bandung sangat terbatas. Saya tak berani memulai dari nol di sini"
"Kak semuanya harus sabar. Tak ada yang turun dari langit. Kita mulai sedikit demi sedikit di sini. Kita berdua berusaha".
"Papa sama mama penginnya saya bergabung dengan perusahaan papa. Sedang investasi besar besaran untuk perluasan"
Papa Dedi punya banyak perusahaan. Bergerak di berbagai bidang. Import ekspor, distributor, supplier barang barang kebutuhan kantor beberapa departemen pemerintah.
"Jika begitu apa saya berhenti kuliah dan pindah Jakarta?".
" Lebih baik kau meneruskan kuliah di Bandung Rosa. Saya akan balik tiap dua minggu. Nanti kalau semua sudah mapan. Jika anak kita lahir pindah ke Jakarta".
***
Tak ada pertanda jelek pada awalnya. Dedi selalu menengok datang ke Bandung setiap dua minggu. Jum'at malam sampai Bandung, Senin pagi berangkat Jakarta. Kehidupan mereka normal normal saja. Biasa banyak pasangan penganten baru yang harus hidup terpisah beberapa saat. Menunggu sampai pekerjaan stabil. Rosa masih terus mengikuti perkuliahan meskipun perutnya semakin membesar. Hanya kegiatan diskusi dan kelompok belajar dia tak bisa ikut. Sore hari penginnya istirahat di rumah. Dia rajin membaca bahan kuliah.
Menjelang umur kehamilan ke tujuh, Dedi agak jarang datang ke Bandung. Alasannya sibuk, pekerjaan tak bisa ditinggalkan. Sering harus pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan. Rosa tak begitu merisaukan walau kadang sering merasa sepi. Dia hanya bicara dengan suaminya lewat tilpon, kalau tidak sedang bepergian. Rasanya pengin sekali dia ikut ke Jakarta. Tetapi Dedi selalu bilang, kalau di Jakarta suasana nggak enak. Lari ke sana kemari. Dia akan kesepian jika ikut ke Jakarta. Memang sejak pernikahan itu, Rosa belum sekalipun diajak ke Jakarta. Pengin dia bertemu dengan mertua, papa dan mama Dedi serta adik adiknya. Rosa hanya bisa mengiyakan meskipun dia sebenarnya pengin sekali ikut hijrah ke Jakarta. Dia pupus harapannya, inilah pengorbanan demi kebahagiaan bersama, demi masa depan dan demi anak yang dikandungnya. Semua pasangan baru pasti mengalami masa masa sulit untuk meniti perjalanan ke depan. Belum mapan. Semuanya masih berjuang untuk menata kehidupan berumah tangga.
Saat saat menjelang kelahiran bayinya, Rosa semakin rajin menilpun Dedi. Dua minggu sebelum hari perhitungan lahir, dia ingatkan agar siap siap menunggu kelahiran bayi mereka. Dedi memang mengiyakan akan datang ke Bandung waktu itu. Tetapi kemudian dia bilang bahwa ada jadual pekerjaan yang tak bisa ditinggal'
" Minggu depan saya harus ke Medan dan Pekan Baru. Ada kontrak yang harus dibicarakan tuntas sebelum ditanda tangani".
"Apakah tidak ada orang lain yang bisa mewakili perusahaan kak. Saya butuh kau bersama di sini?"
"Saya usahakan semaksimal mungkin Rosa. Hanya papa, mama atau saya yang bisa menuntaskan urusan ini. Papa ada janji dengan mitra investor Korea. Mereka juga akan datang dalam waktu bersamaan".
"Gimana saya mesti bilang sama mama dan papa jira kak Dedi nggak menunggu saya melahirkan? Rosa hampir terisak dalam tilpon. Dia tak bisa percaya kalau pekerjaan bisa demikian menyita kehidupan suazi isteri.
"Sampaikan maaf saya untuk papa dan mama. Saya akan datang secepat mungkin sesudah urusan selesai semuanya".
Tak semuanya dikatakan ke papa dan mamanya. Semua dipendam dan dirasakan sendiri. Hanya dia bilang sambil lalu kalau Dedi sedang sibuk luar biasa karena pekerjaannya. Agar papa dan mamanya tidak terkejut betul jika Dedi tak menunggu saat dia melahirkan nanti. Ketika waktu melahirkan datang, hanya adiknya Iwan yang ada di dekatnya. Rosa diantar Iwan ke rumah sakit bersalin. Mama dan papanya menyusul kemudian. Mereka baru membereskan urusan pabrik textil yang tengah mulai berproduksi di daerah Bandung selatan. Rosa minta Iwan menghubungi Dedi, namur tak pernah berhasil bicara langsung dengan dia. Iwan hanya meninggalkan pesan kalau kakaknya Rosa di rumah sakit akan melahirkan.
Hari Sabtu sore, Rosa akhirnya melahirkan dengan selamat. Semua lancar. Semua cerah secerah hawa Bandung sore hari. Seolah semua bahagia menyambut kedatangan bayi yang dikandung. Tetapi hati Rosa tetap gundah. Dedi tak juga muncul. Tak ada tilpun. Tak ada pesan. Iwan ikut merasakan kesenduan kakaknya. Tetapi dia hanya berdiam diri. Ketika kedua orang tuanya hadir di rumah sakit, Rosa tak mengungkapkan gejolak hatinya.
"Tak ada berita dari suamimu?" papanya bertanya.
"Mungkin masih di Medan pa. Tetapi Iwan sudah meninggalkan pesan lewat tilpon di rumahnya".
"Moga moga dia cepat menghubungimu'.
"Tak apa, tak ada yang perlu tergesa gesa. Moga moga saja kak Dedi cepat datang dan lihat anaknya".
"Tak semua ayah bisa menunggu kelahiran anak pertama. Banyak peristiwa terjadi bersamaan. Tetapi moga moga dia cepat datang Rosa".
Mama hanya berdiam diri. Dia memendam kekecewaan yang dalam. Tak suka dia memperlihatkannya. Hanya berdiam diri. Mencoba menghibur Rosa sebaik mungkin. Hari Senin pagi, Rosa kembali ke rumah bersama bayinya. Dia sudah siap dan merasa mantap menimang dan membesarkan bayinya sendirian. Jika memang harus demikian. apa boleh buat. Tak bisa berandai andai menunggu. Mungkin saja Dedi memang belum siap menerima kenyataan menjadi seorang ayah. Dengan persetujuan papa dan mamanya dia beri nama anaknya Titania Puspasari.
Hari Sabtu sore, Dedi akhirnya datang.. Naik suburban 4848. Wajahnya nampak lelah dan kuyu. Tak menyiratkan kegembiraan.
" Maaf saya tak bisa tilpon dari Pekan Baru Rosa. Hubungan telepon tak lancar. Saya terima pesan Iwan waktu tiba di Jakarta. Langsung ke sini".
"Semuanya lancar kak. Hanya papa sama mama yang menanyakan kak Dedi. Saya beri nama Tita. Titania Puspasari"
"Nama yang indah. Dia cantik seperti kau" Dedi memandang sekilas bayi di ranjang.
"Kak kapan saya bisa ikut pindah ke Jakarta?. Kan sesudah melahirkan, kita rencana pindah Jakarta".
"Tak usah tergesa Rosa. Biar Tita agak besar sedikit. Supaya nggak repot nanti"
"Kita akan tinggal bersama keluarga papa dan mama atau mau kontrak rumah sendiri nanti?'
"Mungkin tinggal bersama papa dan mama sementara".
Hanya semalam Dedi menunggu Rosa. Hari Minggu siang dia harus kembali ke Jakarta. Hari Senin ada acara rapat di kantor. Rosa mencoba menahannya untuk tinggal beberapa hari lagi. Tak bisa meninggalkan pekerjaan katanya. Tak ada orang yang bisa menggantikannya di kantor. Dedi lebih banyak merenung selama di bandung. Tak sempat ke luar kemana mana. Hanya diam di kamar bertiga dengan bayi Tita. Semalam sempat bicara sebentar dengan papa dan mama. Mereka menanyakan gimana rencana lebih lanjut. Dedi menjawab jika belum punya rencana pasti.
Pagi menjelang keberangkatan ke Jakarta Dedi ingin membicarakan sesuatu dengan Rosa.
"Rosa, ada sesuatu yang musti saya beritahukan padamu."
"Apakah menyangkut kita bertiga?"
"Ya sedikit banyak menyangkut kita sekeluarga. Masa depan kita bersama"
"Katakan jira saya bisa membantumu kak"
"Sebenarnya sudah rencana lama. Tetapi saya tak pernah mengungkapkannya padamu. Saya ingin menempuh program paska sarjana di Australia"
"Berarti harus pisah jauh beberapa tahun kak. Paling tidak kan dua atau tiga tahun. Ada kemungkinan kami ikut nanti?".
"Iya paling tidak dua tahun. Saya tak tahu nanti mungkin kamu bisa menyusul bersama Tita. Tetapi bukan saat saat awal ini".
"Kapan rencana berangkat ?"
" Kira kira dua minggu lagi. Surat panggilannya baru saya terima saat kembali dari Pekan Baru kemarin".
Rosa tak bisa menutupi rasa sedihnya. Dia hanya menangis lirih. Dia ingin hidup seperti kebanyakan keluarga baru. Hudp bersama dan menikmati kebahagiaan. Bukan masalah uang semata. Dia tak pernah merasa kekurangan. Tetapi ketersendirian tanpa kebersamaan dengan suami itulah yang menyiksanya. Dia peluk suaminya dan menangis lirio di dada Dedi. Kesunyian yang mencekam. Keduanya tenggelam dalam perasaan masing masing.
"Sebelum berangkat, usahakan ke sini dulu ya kak. Juga pamit sama papa dan mama".
"Saya belum mengatakannya ke papa dan mamamu. Mungkin besok saja kalau mau berangkat ya".
Siang itu dia mengantar Dedi sampai pintu halaman. Dia seolah merasakan kehilangan orang yang diicintainya. Untuk masa yang lama.
"Ah moga moga ada jalan. Mungkin juga ini jalan terbaik untuk kami bertiga".
Sunday, March 1, 2009
(11) Terhempas
Hari hari ceria bagi Rosa dan Dedi seolah berjalan dalam mimpi. Dunia menjadi milik mereka berdua. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Tenggelam dalam kesibukan kuliah. Dalam waktu senggang, dia nikmati waktu bersama Dedi. Dedi orangnya pendiam, serius, penuh cita cita masa depan. Dia harus menjadi penerus ayahnya menjalankan roda perusahaan yang semakin membesar. Dia ingin belajar dan menggali pengalaman sebanyak mungkin. Ingin meneruskan studi ke luar negeri. Semua rencana diberitahukan ke Rosa. Mereka sama sama yakin akan hidup bersama meraih impian masa depan.
Juga Rosa, cita citanya terukir indah. Bersama Dedi yang dinamis. Seolah tak ada jalan ke depan tanpa Dedi. Semua pilihan tertumpu pada keterikatannya dengan Dedi. Mengukir masa depan yang gemilang. Untuk itu dia serahkan segalanya. Dia nikmati segalanya. Keheningan yang membara saat menikmati kebersamaan badan bersama Dedi selalu melayang dalam lamunan yang indah. Melayang di awang awang di antara irama napas yang memburu. Tak peduli resiko. Tak peduli kejadian sekitar. Hanya mimpi indah.
Suatu pagi, bangun tidur Rosa merasa tidak enak badan. Malas mau berangkat kuliah. Sudah berhari hari tak merasa enak badan. Juga beberapa hari ini tak sempat bertemu dengan Dedi. Dia ke kamar mandi. Ingin mandi biar badan terasa segar. Tiba tiba saja merasa mual di kamar mandi. Muntah muntah ketika membau odol saat sikat gigi. Badannya lemas tak keruan. Ada ketakutan. Kekhawatiran yang wajar. Dia belum datang bulan. Biasanya sekitar awal bulan. Ini sudah tiga minggu belum datang juga. Tiba tiba rasa takut menyelinap. Dia cepat cepat tilpun Dedi.
"Kak Dedi, saya ingin ketemu hari ini juga. Ada yang ingin saya bicarakan".
" Jika anda ada waktu sore ini lihat sinema di Braga. Saya kebetulan tak sibuk".
" Iyalah. Yang penting saya pengin ketemu". Rosa menegaskan.
"Sampai ketemu sore nanti ya. Pakai baju warna lila itu. Kau cantik sekali".
Rosa tak menyahut. Pikirannya kalut. Rasa takut membayanginya. Jangan jangan. "Ah tak mungkin. Saya selalu hati hati menghindari masa subur"
Hari itu Rosa tak berangkat ke kampus. Dia hanya tiduran di kamar. Ibunya bertanya kenapa nggak kuliah. "Tak ada pelajaran mami. Dosennya ke luar kota". Ibunya tak bertanya lebih jauh. Mama Kusuma selalu sibuk dengan industri tekstil yang dirintis bersama suaminya beberapa tahun lalu. Kebijakan pasar terbuka, membuka peluang untuk usaha swasta. Jam empat sore Dedi datang menjemput. Rosa tak sempat berbasa basi. Mereka cepat cepat berangkat. Mau nonton film di Braga. Rosa tak banyak bicara seperti biasanya.
"Mengapa kamu diam saja Rosa?"
"Saya takut. Saya belum datang bulan. Sudah terlambat 3 minggu".
"Nggak usah takut. Nanti kita bicarakan. Bukan masalah besar".
Mereka berdua diam saja dalam sinema. Rosa tak bisa konsentrasi menikmati film itu. Pikirannya melayang. Bayangan ketakutan menyelinap. Jika dia harus meninggalkan kuliah. Jika dia harus kehilangan impian impiannya.
***
Sore itu Rosa periksa dokter. Dokter Agung, praktek di jalan Purnawarman. Dia diantar Dedi. Dengan sabar dokter memberi nasehat agar tidak panik. Tidak perlu bingung. Setelah melakukan pemeriksaan dan test, dokter memberitahu Rosa dengan sabar.
"Rosa, berbahagialah. Anda hamil delapan minggu. Jaga benar benar kesehatanmu"
Rosa tertegun. Matanya menerawang basah. Tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Dok, saya masih kuliah. Saya mungkin tak siap".
"Jangan kecil hati nyonya muda. Saya punya anak pertama sewaktu masih kuliah di tahun ke empat. Isteri saya masih di tahun kedua. Kami bisa menjalankan tugas orang tua sembari kuliah".
"Iya dok. Mohon doa restu saja".
Rosa meninggalkan tempat praktek dokter dengan gundah. Dia diam membisu. Di dalam mobil dia katakan dengan singkat ke Dedi.
"Kak Dedi, saya hamil delapan minggu". Dedi nampak terkejut. Wajahnya memucat. Dia mencoba tenang dan tak banyak berkata.
" Kita berdua belum siap Rosa. Apa yang akan kita lakukan? Nggak bisa dihentikan?
"Dihentikan berarti digugurkan kak. Saya nggak sampai hati. Ini anak kita".
" Iya Rosa. Cuma bagaimana dengan rencana studi kita? Apakah dapat tercapai jika kita berkeluarga dan beranak?"
" Rencana terpaksa berubah. Masih banyak jalan dan pilihan lain. Biarlah janin ini hidup. Saya ingin membesarkannya. Apapun yang terjadi. At any price".
Dedi hanya diam. Tak ada gunanya berdebat atau saling menyalahkan. Dia menyadari, ini kesalahannya dan kesalahan mereka berdua.
***
Mama begitu terkejut ketika Rosa dengan tangis tertahan mengatakan bahwa dia hamil. Dia begitu terpukul karena dia percaya sepenuhnya jika Rosa selalu taat dan mampu menjalankan petuah petuahnya. Penyesalan tak ada artinya. Selama ini mama Kusuma selalu sibuk dengan bisnisnya. Tak banyak waktu bersama dengan kedua anaknya. Iwan dan Rosa.
Sore itu, Dedi dan Rosa dipanggil dan diajak bicara bersama. Papa Rosa nampak begitu terguncang menghadapi kejadian yang menimpa putri kesayangannya. Dia juga tak banyak bicara. Dengan singkat dia berkata.
"Dedi, kejadian ini sangat memukul kami. Sangat mengecewakan. Tetapi semuanya telah terjadi. Kami hanya menginginkan agar semua diselesaikan secara bertanggung jawab. Tolong bilang sama papi dan mami. Bilang apa adanya, Kami harap mereka bisa menemui kami secepat mungkin untuk menyelesaikan ini"
" Iya oom. Saya minta maaf sebesar besarnya. Saya akan minta papi sama mami datang ke Bandung".
" Rosa, ini petaka yang berat untuk kita semua. Untuk papa dan mamamu. Tetapi saya minta kamu tetap tabah. Jangan sampai kandas. Perjalanan masih panjang. Jangan menyerah. Banyak jalan ke depan". Papa Kusuma berkata dengan pelan. Wajahnya sedih. Nampak lebih tua dari usia sebenarnya.
***
Perkawinan Rosa dan Dedi berjalan sederhana. Menjelang akhir tahun. Pesta sederhana di rumah. Dihadiri oleh sanak saudara dari kedua belak pihak. Pesta kebun di halaman yang teduh itu. Hanya Rosa, Dedi dan kedua orang tuanya yang tahu alasan perkawinan itu diadakan secara mendadak. Buat para kerabat yang hadir, hanya kebahagiaan saja yang terpancar dari kedua pengantin, juga dari kedua orang tua. Mereka punya alasan tepat untuk tidak merayakannya secara besar besaran. Suasana lagi tak menentu. Tak tepat bermewah mewah sementara situasi ekonomi sedang surut. Di mana mana mahasiswa sering demontrasi anti korupsi.
Halaman yang teduh itu menjadi saksi perjalanan gadis Rosa. Sejak kecil dia selalu bermain di halaman itu. Begitu dekat dihati Rosa. Juga saat pesta pernikahan yang terpaksa diadakan mendadak. Saat itu dia hanya berdoa semoga masih diberi kesempatan untuk meraih cita citanya di masa depan. Impian untuk hidup berbahagia. Sebagai wanita karier seperti mamanya. Rosa mencoba menimati suasana pesta. Ceria bersama Dedi.
Merasa terhempas. Tetapi Rosa yakin kalau belum kandas. Dia masih ingin memburu cita cita menjadi wanita karier. Apapun jalan yang harus ditempuh. Demi masa depannya. Dia ingin seperti mamanya. Pengusaha wanita yang sukses. Menjadi isteri dan mempunyai anak bukan hambatan menjadi wanita sukses. Dia pernah bercita cita jadi bankir. Mana mungkin sekarang?. Tak putus asa. Masih ada banyak jalan ke depan.
****
Kenangan masa lalunya seolah diputar begitu jelas dalam ingatan Rosa. Dia selalu duduk di halaman itu setiap sore. Menjelang matahari tenggelam. Bersama anaknya Tita. Mengenang kejadian kejadian yang telah dilaluinya. Perkenalan dengan Bram, seolah mengingatkan kembali peristiwa peristiwa yang menimpanya. Dia tak pernah putus asa karena peristiwa peristiwa itu. Dia merasa berhak meraih kebahagiaan. Meskipun dia terhempas. Menjadi janda di usia belia. Tetapi dia yakin tidak kandas dalam perjalanan hidupnya. "Saya terhempas, tetapi tidak terkandas". Dia peluk Tita. Dia ingat Bram kenalan barunya yang dia kagumi. Ingatan akan masa lalu tidak mengecilkan hatinya. Untuk mengagumi dan dekat dengan Bram.
Juga Rosa, cita citanya terukir indah. Bersama Dedi yang dinamis. Seolah tak ada jalan ke depan tanpa Dedi. Semua pilihan tertumpu pada keterikatannya dengan Dedi. Mengukir masa depan yang gemilang. Untuk itu dia serahkan segalanya. Dia nikmati segalanya. Keheningan yang membara saat menikmati kebersamaan badan bersama Dedi selalu melayang dalam lamunan yang indah. Melayang di awang awang di antara irama napas yang memburu. Tak peduli resiko. Tak peduli kejadian sekitar. Hanya mimpi indah.
Suatu pagi, bangun tidur Rosa merasa tidak enak badan. Malas mau berangkat kuliah. Sudah berhari hari tak merasa enak badan. Juga beberapa hari ini tak sempat bertemu dengan Dedi. Dia ke kamar mandi. Ingin mandi biar badan terasa segar. Tiba tiba saja merasa mual di kamar mandi. Muntah muntah ketika membau odol saat sikat gigi. Badannya lemas tak keruan. Ada ketakutan. Kekhawatiran yang wajar. Dia belum datang bulan. Biasanya sekitar awal bulan. Ini sudah tiga minggu belum datang juga. Tiba tiba rasa takut menyelinap. Dia cepat cepat tilpun Dedi.
"Kak Dedi, saya ingin ketemu hari ini juga. Ada yang ingin saya bicarakan".
" Jika anda ada waktu sore ini lihat sinema di Braga. Saya kebetulan tak sibuk".
" Iyalah. Yang penting saya pengin ketemu". Rosa menegaskan.
"Sampai ketemu sore nanti ya. Pakai baju warna lila itu. Kau cantik sekali".
Rosa tak menyahut. Pikirannya kalut. Rasa takut membayanginya. Jangan jangan. "Ah tak mungkin. Saya selalu hati hati menghindari masa subur"
Hari itu Rosa tak berangkat ke kampus. Dia hanya tiduran di kamar. Ibunya bertanya kenapa nggak kuliah. "Tak ada pelajaran mami. Dosennya ke luar kota". Ibunya tak bertanya lebih jauh. Mama Kusuma selalu sibuk dengan industri tekstil yang dirintis bersama suaminya beberapa tahun lalu. Kebijakan pasar terbuka, membuka peluang untuk usaha swasta. Jam empat sore Dedi datang menjemput. Rosa tak sempat berbasa basi. Mereka cepat cepat berangkat. Mau nonton film di Braga. Rosa tak banyak bicara seperti biasanya.
"Mengapa kamu diam saja Rosa?"
"Saya takut. Saya belum datang bulan. Sudah terlambat 3 minggu".
"Nggak usah takut. Nanti kita bicarakan. Bukan masalah besar".
Mereka berdua diam saja dalam sinema. Rosa tak bisa konsentrasi menikmati film itu. Pikirannya melayang. Bayangan ketakutan menyelinap. Jika dia harus meninggalkan kuliah. Jika dia harus kehilangan impian impiannya.
***
Sore itu Rosa periksa dokter. Dokter Agung, praktek di jalan Purnawarman. Dia diantar Dedi. Dengan sabar dokter memberi nasehat agar tidak panik. Tidak perlu bingung. Setelah melakukan pemeriksaan dan test, dokter memberitahu Rosa dengan sabar.
"Rosa, berbahagialah. Anda hamil delapan minggu. Jaga benar benar kesehatanmu"
Rosa tertegun. Matanya menerawang basah. Tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Dok, saya masih kuliah. Saya mungkin tak siap".
"Jangan kecil hati nyonya muda. Saya punya anak pertama sewaktu masih kuliah di tahun ke empat. Isteri saya masih di tahun kedua. Kami bisa menjalankan tugas orang tua sembari kuliah".
"Iya dok. Mohon doa restu saja".
Rosa meninggalkan tempat praktek dokter dengan gundah. Dia diam membisu. Di dalam mobil dia katakan dengan singkat ke Dedi.
"Kak Dedi, saya hamil delapan minggu". Dedi nampak terkejut. Wajahnya memucat. Dia mencoba tenang dan tak banyak berkata.
" Kita berdua belum siap Rosa. Apa yang akan kita lakukan? Nggak bisa dihentikan?
"Dihentikan berarti digugurkan kak. Saya nggak sampai hati. Ini anak kita".
" Iya Rosa. Cuma bagaimana dengan rencana studi kita? Apakah dapat tercapai jika kita berkeluarga dan beranak?"
" Rencana terpaksa berubah. Masih banyak jalan dan pilihan lain. Biarlah janin ini hidup. Saya ingin membesarkannya. Apapun yang terjadi. At any price".
Dedi hanya diam. Tak ada gunanya berdebat atau saling menyalahkan. Dia menyadari, ini kesalahannya dan kesalahan mereka berdua.
***
Mama begitu terkejut ketika Rosa dengan tangis tertahan mengatakan bahwa dia hamil. Dia begitu terpukul karena dia percaya sepenuhnya jika Rosa selalu taat dan mampu menjalankan petuah petuahnya. Penyesalan tak ada artinya. Selama ini mama Kusuma selalu sibuk dengan bisnisnya. Tak banyak waktu bersama dengan kedua anaknya. Iwan dan Rosa.
Sore itu, Dedi dan Rosa dipanggil dan diajak bicara bersama. Papa Rosa nampak begitu terguncang menghadapi kejadian yang menimpa putri kesayangannya. Dia juga tak banyak bicara. Dengan singkat dia berkata.
"Dedi, kejadian ini sangat memukul kami. Sangat mengecewakan. Tetapi semuanya telah terjadi. Kami hanya menginginkan agar semua diselesaikan secara bertanggung jawab. Tolong bilang sama papi dan mami. Bilang apa adanya, Kami harap mereka bisa menemui kami secepat mungkin untuk menyelesaikan ini"
" Iya oom. Saya minta maaf sebesar besarnya. Saya akan minta papi sama mami datang ke Bandung".
" Rosa, ini petaka yang berat untuk kita semua. Untuk papa dan mamamu. Tetapi saya minta kamu tetap tabah. Jangan sampai kandas. Perjalanan masih panjang. Jangan menyerah. Banyak jalan ke depan". Papa Kusuma berkata dengan pelan. Wajahnya sedih. Nampak lebih tua dari usia sebenarnya.
***
Perkawinan Rosa dan Dedi berjalan sederhana. Menjelang akhir tahun. Pesta sederhana di rumah. Dihadiri oleh sanak saudara dari kedua belak pihak. Pesta kebun di halaman yang teduh itu. Hanya Rosa, Dedi dan kedua orang tuanya yang tahu alasan perkawinan itu diadakan secara mendadak. Buat para kerabat yang hadir, hanya kebahagiaan saja yang terpancar dari kedua pengantin, juga dari kedua orang tua. Mereka punya alasan tepat untuk tidak merayakannya secara besar besaran. Suasana lagi tak menentu. Tak tepat bermewah mewah sementara situasi ekonomi sedang surut. Di mana mana mahasiswa sering demontrasi anti korupsi.
Halaman yang teduh itu menjadi saksi perjalanan gadis Rosa. Sejak kecil dia selalu bermain di halaman itu. Begitu dekat dihati Rosa. Juga saat pesta pernikahan yang terpaksa diadakan mendadak. Saat itu dia hanya berdoa semoga masih diberi kesempatan untuk meraih cita citanya di masa depan. Impian untuk hidup berbahagia. Sebagai wanita karier seperti mamanya. Rosa mencoba menimati suasana pesta. Ceria bersama Dedi.
Merasa terhempas. Tetapi Rosa yakin kalau belum kandas. Dia masih ingin memburu cita cita menjadi wanita karier. Apapun jalan yang harus ditempuh. Demi masa depannya. Dia ingin seperti mamanya. Pengusaha wanita yang sukses. Menjadi isteri dan mempunyai anak bukan hambatan menjadi wanita sukses. Dia pernah bercita cita jadi bankir. Mana mungkin sekarang?. Tak putus asa. Masih ada banyak jalan ke depan.
****
Kenangan masa lalunya seolah diputar begitu jelas dalam ingatan Rosa. Dia selalu duduk di halaman itu setiap sore. Menjelang matahari tenggelam. Bersama anaknya Tita. Mengenang kejadian kejadian yang telah dilaluinya. Perkenalan dengan Bram, seolah mengingatkan kembali peristiwa peristiwa yang menimpanya. Dia tak pernah putus asa karena peristiwa peristiwa itu. Dia merasa berhak meraih kebahagiaan. Meskipun dia terhempas. Menjadi janda di usia belia. Tetapi dia yakin tidak kandas dalam perjalanan hidupnya. "Saya terhempas, tetapi tidak terkandas". Dia peluk Tita. Dia ingat Bram kenalan barunya yang dia kagumi. Ingatan akan masa lalu tidak mengecilkan hatinya. Untuk mengagumi dan dekat dengan Bram.
Saturday, February 21, 2009
(10) Hidup bukan impian

Hari Minggu sore, Rosa bermain bersama Tita, putri tercinta. Di halaman depan di mana dia beberapa minggu lalu duduk bersama Bram di sana. Titania Puspasari, panggilannya Tita, baru berumur dua tahun lebih. Beberapa bulan lalu baru merayakan ulang tahun ke dua. Ulang tahun hanya bersama mama, opa, oma dan oomnya Iwan. Tak ada orang lain. Merekalah orang orang yang hadir dekat dalam kehidupan Tita. Juga bibik Irah. Tak ada papa. Dia masih polos dan belum mengenal papa. Belum juga punya naluri untuk bertanya. Suatu saat pasti dia akan bertanya. Dan Rosa harus siap memberikan jawabannya.
Kadang Rosa merasa getir, bagaimana menghadapi situasi itu. Bagaimana saat Tita masuk sekolah dan melihat teman temannya bersama papa dan mamanya. Dia pasti akan bertanya. "Mama Rosa, teman teman saya selalu diantar papa sama mamanya. Dimana papa Tita?" . Kadang merasa takut membayangkan pertanyaan itu. Hidup memang bukan impian. Banyak peristiwa di luar kendali manusia. Sewaktu gadis dulu, dia selalu menatap kehidupan dengan penuh harapan akan kebahagian. Dunia seolah sorga penuh impian indah. Sayang tak selamanya impian bisa terwujud. Dia pernah terhempas dari impian impian itu. Dia pernah jatuh karena asmara. Tetapi dia merasa yakin untuk bangkit kembali. Hidup adalah pilihan. Kebahagiaam adalah hak setiap manusia. "Tita, mama akan berjuang untukmu dan untuk kita". Rosa selalu berpikir, karena Tita, dia berjuang untuk meraih kembali kebahagiaan dalam hidupnya. Dia belum terkandas, dia belum terhempas.
Sore itu Rosa merasa punya rasa percaya diri kembali untuk menghadapinya. Ingat saat duduk bersama Bram di tempat itu. Perkenalan dengan Bram sangat berarti buat Rosa. Selama ini hatinya dingin membeku terhadap pria. Hatinya begitu sakit dan terhunjam jika mengingat peristiwa masa lalu. Seolah kebahagiaan dan masa depannya telah direnggut secara paksa. Oleh situasi yang tak terkendali. Oleh seseorang yang telah mengkianati cintanya yang polos. Bertemu dengan Bram, dia merasa punya semangat kembali untuk mengarungi perjalanan ke depan. Jika itu mungkin. Jika Bram tak menjauh lagi. Tak ada keterikatan di antara mereka. Hanya rasa sesaat yang baru muncul. Rasa saling ingin melindungi dan membahagiakan. Rosa tak merasa rendah diri, walau dia sudah menjanda. Dia merasa lega setelah memberitahukannya ke Bram. Whatever happens, this is me. Pikirannya melayang ke masa masa lalu. Jangan lagi terkecoh impian indah. Jika toh Bram kecewa akan keadaan dirinya, Rosa tak akan berkecil hati menghadapi. Apapun yang terjadi terjadilah. Akan dihadapi dan diterima apa adanya.
***
Masih jelas benar pertemuan pertama dengan Dedi empat tahun lalu. Senja yang indah. Penutupan masa perploncoan. Semua mahasiswa dan mahasiswi selesai menjalani perploncoan berpakaian normal layaknya mahasiswa. Dalam dua minggu ini mereka mengalami tekanan mental dan fisik yang sangat. Harga diri dan kebanggaan sebagai mahasiswa seolah dirampas dan dicerca. Pakaian tak pernah layak. Selalu dengan atribut atribut brengsek, simbol perploncoan yang tak jelas maknanya. Sore itu Rosa berpakaian normal kembali. Warna gelap. Masa konyol perploncoan telah selesai. Malam penutupan menanti.
Dia sendirian menghadiri malam penutupan. Belum banyak teman yang dia kenal. Semua pakai nama brengsek selama plonco. Rosa diantar Iwan, adiknya ketempat pesta di kampus. Iwan janji akan menjemput setelah pesta usai. Pesta begitu meriah dan mengasyikkan. Lepas dari tekanan dan kekangan selama dua minggu. Puncaknya pesta dansa. Mula mula irama musik keras menghentak. Semua peserta bergerak bebas menggoyangkan tubuh. Suara musik begitu memekakkan telinga. Tubuh asal bergerak berjingkat jingkat mengikuti irama musik. Semakin malam alunan musik semakin menghanyutkan. Lewat jam sepuluh musik beralih ke irama ballroom.
Rosa senang ballroom. Dia begitu menikmati dansa dengan irama tenang. Wallz, tango, rhumba, foxtrot. Ketika lagu "Raindrop keeps falling on my head", seseorang mendekat dan mengajaknya turun. Tak ada yang istimewa. Orang itu bukan teman plonconya. Mungkin seniornya. Dia menuruti ajakannya karena Rosa memang gemar foxtrot. Berdua bergerak mengikuti irama musik. Seolah melayang bersama. "Nama saya Dedi. Dedi Karnadi", pria itu memperkenalkan diri dengan sopan sembari membimbingnya di lantai dansa.
"Saya Rosa. Apakah anda kuliah di sini ?
"Di jurusan ekonomi. Tahun terakhir. Baru menyusun skripsi akhir"
"Enak dhong, nggak usak ikut plonco".
"Rosa, rupanya anda gemar dansa. Sudah luwes dan pas sekali gerakannya".
"Papa sama mama selalu dansa di rumah. Saya belajar dari mereka".
Tak banyak mereka bisa bicara. Suara musik menjadi penghalang untuk bicara banyak. Mau bisik bisik tak kedengaran. Mau bicara keras, dibilang anak kampung sedang ronda. Ketika musik berganti lagu Amor, berdua mereka menari rhumba dengan gemulai dan seksi. Papa selalu memuji Rosa, jika dia menari rhumba. Meliuk liuk ritmis mengikuti irama musik. Dedi teman barunya juga tak banyak bercerita. Bicara seperlunya. Sepertinya selalu serius. Ceritanya dia tinggal di Bandung sendirian. Asli Jakarta. Hampir tiap dua minggu pasti balik ke Jakarta di akhir pekan. Tinggal di daerah sekitar Dago.
Menjelang tengah malam Rosa mulai gelisah. Iwan belum juga datang menjemput. Dia pesan tadi agar Iwan menjemputnya sebelum tengah malam.
"Jika tak keberatan, saya bisa antar. Saya tinggal di Dago".
"Enggak apa apa? Saya tinggal di Cisitu. Mestinya adik saya akan menjemput. Papa pasti sudah menunggu".
"Nggak usah kuatir, kita satu jurusan. Saya antar sebentar"
Mereka berdua pulang naik mobil Dedi. Rosa terkesan sikap Dedi yang sopan. Membukakan pintu mobil dan membimbingnya masuk. Pelan pelan mereka menyusur jalan Dago. Angin malam dingin kadang menerpa masuk lewat kaca jendela. Sampai rumah ternyata Iwan sudah berangkat sejak jam sebelas tadi. Papa Rosa heran ketika anak gadisnya datang diantar pria yang belum dikenalnya.
"Mana adikmu, Iwan?"
"Pah saya nunggu nunggu dia kok nggak muncul muncul. Lalu saya diantar oleh kak Dedi".
Dedi cepat cepat pamitan setelah menyerahkan. Masih sempat memberikan kartu nama sebelum pergi. "Bisa hubungi saya jika ada butuh informasi tentang kampus".
"Terima kasih kak Dedi, mau ngantar saya. Kapan kapan ketemu lagi".
Hari hari berlangsung normal kemudian. Dedi semakin sering menemui Rosa. Menjemput dan mengajak jalan jalan di akhir pekan. Mulanya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Namun Rosa menikmati hubungan mereka. Mungkin lebih dari sekedar teman dekat. Ada getaran selalu muncul di balik senyuman mesra. Tak bisa diingkari. Keduanya masih sama sama muda. Masih penuh dengan impian dan gairah asmara yang indah.
***
Bulan bulan berlalu dengan nyaman. Rosa teratur mengikuti kegiatan akademis perkuliahan di fakultas ekonomi. Tak banyak kesulitan ditemui. Karena dia memang menyenangi. Juga karena bantuan Dedi, yang empat tahun lebih senior darinya. Dedi sangat membantu dan membimbing Rosa menyesuaikan dengan disiplin dan kehidupan akademis. Mereka juga mengakui ada hubungan istimewa. Antara pria dan wanita.
Dedi tak lagi sering pulang Jakarta. Akhir pekan dimanfaatkan mengunjungi Rosa. Mereka memanfaatkan waktu akhir pekan berduaan. Selalu saja ada acara. Entah di rumah, entah ke tempat teman, entah ke Lembang, entah dansa di klub mahasiswa Bandung. Seolah tak bisa dipisahkan lagi. Cinta pertama bagi Rosa. Perasaannya melambung setinggi langit. Papa dan mama Rosa juga memberi lampu hijau. Dedi berasal dari kalangan atas di Jakarta. Dari keluarga kaya.
Hari Minggu siang. Dedi seperti biasanya menjemput Rosa untuk jalan jalan. Menjelang jam makan siang. Mereka makan siang di dekat Braga. Habis makan rencananya mau cari buku di toko buku sekitar daerah itu. Ada beberapa buku teks yang harus dibeli. Rosa serius sekali mengikuti pelajaran. Setiap kuliah selalu disertai dengan penugasan yang harus dikumpulkan sebagai bahan penilaian semester. Mereka telah selesai makan ketika tiba tiba hujan deras mengguyur. Rencana ke toko buku batal. "Masih banyak kesempatan besok " pikir Rosa. Pelan pelan mereka menuju utara lewat jalan Dago.
"Baru jam satu Rosa. Tak usah tergesa pulang. Gimana kalau mampir ke tempat saya. Ada musik baru, busanova. Bisa mendengar suara musik"
Rosa agak ragu. Dia sudah beberapa kali mampir ke rumah Dedi, tetapi selalu diantar Iwan.
"Iyalah, di rumah paling saya tidur. Minggu siang acaranya tidur". Hari hari biasa tak pernah sempat tidur siang. Ada saja acara di kampus.
Akhirnya mereka singgah di rumah Dedi. Rumah dengan halaman luas. Dedi ditemani oleh pembantu suami isteri yang sudah di sana bertahun tahun. Pak Ading dan Bik Onah, asal Pengalengan. Mereka ikut keluarga Karnadi sejak sebelum membeli rumah di Dago itu. Di halaman banyak bunga terpelihara rapi. Kebanyakan bunga mawar dengan bau yang semerbak.
"Kok rumah sepi sekali kak?"
" Pak Ading sama bik Onah baru pulang ke Pengalengan. Katanya sih besok akan pulang. Nggak apa apa, kita berdua saja".
Mereka duduk di ruang depan sambil mendengarkan musik lembut. Busanova mengalun tenang menghanyutkan. Sementara hujan di luar tak juga reda. Musik membawa khayalan mereka melayang layang. Tak banyak percakapan. Hanya kadang kadang Rosa bicara lirih. Tangan mereka saling menggenggam dan rabaan raban halus membawa mereka berdua ke alam asmara yang serba indah. Sementara napas mereka semakin memburu. Ketika bibir bibir panas mereka saling memagut dan tangan tangan mereka saling meraba, keinginan datang menderu tak terbendung. Keinginan untuk menikmati kebersamaan fisik sampai tuntas. Pelan pelan mereka pindah ke dalam. Ke kamar tidur. Rosa tak mampu menahannya. Keinginan menghindar tersisih jauh di sudut hatinya. Tersapu gelora asmara yang membara. Seluruh tubuhnya bergetar disertai rasa nikmat melambung tiada tara. Dia menyambut mesra ketika Dedi mulai melepas pakaiannya satu persatu dan mencium dengan gairah lekuk lekuk tubuhnya yang indah. Semua berjalan alamiah. Melayang dengan ringan, Dan napas mereka memburu. Ketika puncak itu datang, napas mereka mengendur dan dan ada rasa puas luar biasa. Jam setengah lima sore ketika mereka bangun. Cepat cepat memakai pakain mereka kembali. Ada rasa kecewa muncul dari dalam hati. Dan Rosa terisak sejenak.
"Tak apa apa Rosa. Telah berlalu. Kita akan tanggung bersama".
Ketika sampai rumah mama Kusuma agak terkejut melihat anak gadis pulang dengan wajah murung dan lusuh. "Apakah kau sakit nak?". Rosa tak menjawab. Pertanyaan itu tak perlu jawaban khusus. Pertanyaan rutin seorang ibu yang penuh perhatian terhadap putri satu satunya.
Hari hari berikutnya berlalu secara normal. Dedi dan Rosa semakin akrab dan mesra. Apa yang mereka lakukan di rumah Dedi hari minggu itu terulang berkali kali. Entah di rumah, entah di tampat peristirahatan, entah di rumah Rosa jika papa sama mama nggak ada dirumah. Hidup begitu indah bergairah. Papa dan mama Kusuma, orang tua Rosa ikut senang melihat putri mereka begitu bergairah. Hidup seolah dalam impian. Dua anak manusia saling terbuai dalam dalam asmara. Terbuai kenikmatan dan keindahan. Mereka tak yakin akan berjalan selamanya. Hanya mengikuti naluri semata.
***
Rosa tersentak dari lamunan ketika Tita menghambur menghampiri. Dia nampak sangat gembira berlari lari di atas rerumputan. Ketika rasa gatal menyentuh kulitnya karena rerumputan itu, Tita berlari menghampiri mamanya.
"Mama, sakit ma"
"Jangan berguling di rumput. Kulitmu nggak tahan. Minum dulu ya nak" Rosa mengelus tangan Tita sejenak.
"Mama saya pengin terbang seperti burung. Bernyanyi sepanjang hari"
" Tita bisa nyanyi. Tapi nggak bisa terbang. Besok naik pesawat kalau sudah besar".
"Sama siapa ma. Sama papa?"
"Iya sama mama nak. Saya janji".
Matahari telah hilang dibalik cakrawala. Rosa menghela napas mengingat peristiwa yang lalu. Hatinya bertekat ingin melupakannya. Hanya melihat ke depan. Masa depan bersama Tita. Hidup memang bukan impian.
Kadang Rosa merasa getir, bagaimana menghadapi situasi itu. Bagaimana saat Tita masuk sekolah dan melihat teman temannya bersama papa dan mamanya. Dia pasti akan bertanya. "Mama Rosa, teman teman saya selalu diantar papa sama mamanya. Dimana papa Tita?" . Kadang merasa takut membayangkan pertanyaan itu. Hidup memang bukan impian. Banyak peristiwa di luar kendali manusia. Sewaktu gadis dulu, dia selalu menatap kehidupan dengan penuh harapan akan kebahagian. Dunia seolah sorga penuh impian indah. Sayang tak selamanya impian bisa terwujud. Dia pernah terhempas dari impian impian itu. Dia pernah jatuh karena asmara. Tetapi dia merasa yakin untuk bangkit kembali. Hidup adalah pilihan. Kebahagiaam adalah hak setiap manusia. "Tita, mama akan berjuang untukmu dan untuk kita". Rosa selalu berpikir, karena Tita, dia berjuang untuk meraih kembali kebahagiaan dalam hidupnya. Dia belum terkandas, dia belum terhempas.
Sore itu Rosa merasa punya rasa percaya diri kembali untuk menghadapinya. Ingat saat duduk bersama Bram di tempat itu. Perkenalan dengan Bram sangat berarti buat Rosa. Selama ini hatinya dingin membeku terhadap pria. Hatinya begitu sakit dan terhunjam jika mengingat peristiwa masa lalu. Seolah kebahagiaan dan masa depannya telah direnggut secara paksa. Oleh situasi yang tak terkendali. Oleh seseorang yang telah mengkianati cintanya yang polos. Bertemu dengan Bram, dia merasa punya semangat kembali untuk mengarungi perjalanan ke depan. Jika itu mungkin. Jika Bram tak menjauh lagi. Tak ada keterikatan di antara mereka. Hanya rasa sesaat yang baru muncul. Rasa saling ingin melindungi dan membahagiakan. Rosa tak merasa rendah diri, walau dia sudah menjanda. Dia merasa lega setelah memberitahukannya ke Bram. Whatever happens, this is me. Pikirannya melayang ke masa masa lalu. Jangan lagi terkecoh impian indah. Jika toh Bram kecewa akan keadaan dirinya, Rosa tak akan berkecil hati menghadapi. Apapun yang terjadi terjadilah. Akan dihadapi dan diterima apa adanya.
***
Masih jelas benar pertemuan pertama dengan Dedi empat tahun lalu. Senja yang indah. Penutupan masa perploncoan. Semua mahasiswa dan mahasiswi selesai menjalani perploncoan berpakaian normal layaknya mahasiswa. Dalam dua minggu ini mereka mengalami tekanan mental dan fisik yang sangat. Harga diri dan kebanggaan sebagai mahasiswa seolah dirampas dan dicerca. Pakaian tak pernah layak. Selalu dengan atribut atribut brengsek, simbol perploncoan yang tak jelas maknanya. Sore itu Rosa berpakaian normal kembali. Warna gelap. Masa konyol perploncoan telah selesai. Malam penutupan menanti.
Dia sendirian menghadiri malam penutupan. Belum banyak teman yang dia kenal. Semua pakai nama brengsek selama plonco. Rosa diantar Iwan, adiknya ketempat pesta di kampus. Iwan janji akan menjemput setelah pesta usai. Pesta begitu meriah dan mengasyikkan. Lepas dari tekanan dan kekangan selama dua minggu. Puncaknya pesta dansa. Mula mula irama musik keras menghentak. Semua peserta bergerak bebas menggoyangkan tubuh. Suara musik begitu memekakkan telinga. Tubuh asal bergerak berjingkat jingkat mengikuti irama musik. Semakin malam alunan musik semakin menghanyutkan. Lewat jam sepuluh musik beralih ke irama ballroom.
Rosa senang ballroom. Dia begitu menikmati dansa dengan irama tenang. Wallz, tango, rhumba, foxtrot. Ketika lagu "Raindrop keeps falling on my head", seseorang mendekat dan mengajaknya turun. Tak ada yang istimewa. Orang itu bukan teman plonconya. Mungkin seniornya. Dia menuruti ajakannya karena Rosa memang gemar foxtrot. Berdua bergerak mengikuti irama musik. Seolah melayang bersama. "Nama saya Dedi. Dedi Karnadi", pria itu memperkenalkan diri dengan sopan sembari membimbingnya di lantai dansa.
"Saya Rosa. Apakah anda kuliah di sini ?
"Di jurusan ekonomi. Tahun terakhir. Baru menyusun skripsi akhir"
"Enak dhong, nggak usak ikut plonco".
"Rosa, rupanya anda gemar dansa. Sudah luwes dan pas sekali gerakannya".
"Papa sama mama selalu dansa di rumah. Saya belajar dari mereka".
Tak banyak mereka bisa bicara. Suara musik menjadi penghalang untuk bicara banyak. Mau bisik bisik tak kedengaran. Mau bicara keras, dibilang anak kampung sedang ronda. Ketika musik berganti lagu Amor, berdua mereka menari rhumba dengan gemulai dan seksi. Papa selalu memuji Rosa, jika dia menari rhumba. Meliuk liuk ritmis mengikuti irama musik. Dedi teman barunya juga tak banyak bercerita. Bicara seperlunya. Sepertinya selalu serius. Ceritanya dia tinggal di Bandung sendirian. Asli Jakarta. Hampir tiap dua minggu pasti balik ke Jakarta di akhir pekan. Tinggal di daerah sekitar Dago.
Menjelang tengah malam Rosa mulai gelisah. Iwan belum juga datang menjemput. Dia pesan tadi agar Iwan menjemputnya sebelum tengah malam.
"Jika tak keberatan, saya bisa antar. Saya tinggal di Dago".
"Enggak apa apa? Saya tinggal di Cisitu. Mestinya adik saya akan menjemput. Papa pasti sudah menunggu".
"Nggak usah kuatir, kita satu jurusan. Saya antar sebentar"
Mereka berdua pulang naik mobil Dedi. Rosa terkesan sikap Dedi yang sopan. Membukakan pintu mobil dan membimbingnya masuk. Pelan pelan mereka menyusur jalan Dago. Angin malam dingin kadang menerpa masuk lewat kaca jendela. Sampai rumah ternyata Iwan sudah berangkat sejak jam sebelas tadi. Papa Rosa heran ketika anak gadisnya datang diantar pria yang belum dikenalnya.
"Mana adikmu, Iwan?"
"Pah saya nunggu nunggu dia kok nggak muncul muncul. Lalu saya diantar oleh kak Dedi".
Dedi cepat cepat pamitan setelah menyerahkan. Masih sempat memberikan kartu nama sebelum pergi. "Bisa hubungi saya jika ada butuh informasi tentang kampus".
"Terima kasih kak Dedi, mau ngantar saya. Kapan kapan ketemu lagi".
Hari hari berlangsung normal kemudian. Dedi semakin sering menemui Rosa. Menjemput dan mengajak jalan jalan di akhir pekan. Mulanya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Namun Rosa menikmati hubungan mereka. Mungkin lebih dari sekedar teman dekat. Ada getaran selalu muncul di balik senyuman mesra. Tak bisa diingkari. Keduanya masih sama sama muda. Masih penuh dengan impian dan gairah asmara yang indah.
***
Bulan bulan berlalu dengan nyaman. Rosa teratur mengikuti kegiatan akademis perkuliahan di fakultas ekonomi. Tak banyak kesulitan ditemui. Karena dia memang menyenangi. Juga karena bantuan Dedi, yang empat tahun lebih senior darinya. Dedi sangat membantu dan membimbing Rosa menyesuaikan dengan disiplin dan kehidupan akademis. Mereka juga mengakui ada hubungan istimewa. Antara pria dan wanita.
Dedi tak lagi sering pulang Jakarta. Akhir pekan dimanfaatkan mengunjungi Rosa. Mereka memanfaatkan waktu akhir pekan berduaan. Selalu saja ada acara. Entah di rumah, entah ke tempat teman, entah ke Lembang, entah dansa di klub mahasiswa Bandung. Seolah tak bisa dipisahkan lagi. Cinta pertama bagi Rosa. Perasaannya melambung setinggi langit. Papa dan mama Rosa juga memberi lampu hijau. Dedi berasal dari kalangan atas di Jakarta. Dari keluarga kaya.
Hari Minggu siang. Dedi seperti biasanya menjemput Rosa untuk jalan jalan. Menjelang jam makan siang. Mereka makan siang di dekat Braga. Habis makan rencananya mau cari buku di toko buku sekitar daerah itu. Ada beberapa buku teks yang harus dibeli. Rosa serius sekali mengikuti pelajaran. Setiap kuliah selalu disertai dengan penugasan yang harus dikumpulkan sebagai bahan penilaian semester. Mereka telah selesai makan ketika tiba tiba hujan deras mengguyur. Rencana ke toko buku batal. "Masih banyak kesempatan besok " pikir Rosa. Pelan pelan mereka menuju utara lewat jalan Dago.
"Baru jam satu Rosa. Tak usah tergesa pulang. Gimana kalau mampir ke tempat saya. Ada musik baru, busanova. Bisa mendengar suara musik"
Rosa agak ragu. Dia sudah beberapa kali mampir ke rumah Dedi, tetapi selalu diantar Iwan.
"Iyalah, di rumah paling saya tidur. Minggu siang acaranya tidur". Hari hari biasa tak pernah sempat tidur siang. Ada saja acara di kampus.
Akhirnya mereka singgah di rumah Dedi. Rumah dengan halaman luas. Dedi ditemani oleh pembantu suami isteri yang sudah di sana bertahun tahun. Pak Ading dan Bik Onah, asal Pengalengan. Mereka ikut keluarga Karnadi sejak sebelum membeli rumah di Dago itu. Di halaman banyak bunga terpelihara rapi. Kebanyakan bunga mawar dengan bau yang semerbak.
"Kok rumah sepi sekali kak?"
" Pak Ading sama bik Onah baru pulang ke Pengalengan. Katanya sih besok akan pulang. Nggak apa apa, kita berdua saja".
Mereka duduk di ruang depan sambil mendengarkan musik lembut. Busanova mengalun tenang menghanyutkan. Sementara hujan di luar tak juga reda. Musik membawa khayalan mereka melayang layang. Tak banyak percakapan. Hanya kadang kadang Rosa bicara lirih. Tangan mereka saling menggenggam dan rabaan raban halus membawa mereka berdua ke alam asmara yang serba indah. Sementara napas mereka semakin memburu. Ketika bibir bibir panas mereka saling memagut dan tangan tangan mereka saling meraba, keinginan datang menderu tak terbendung. Keinginan untuk menikmati kebersamaan fisik sampai tuntas. Pelan pelan mereka pindah ke dalam. Ke kamar tidur. Rosa tak mampu menahannya. Keinginan menghindar tersisih jauh di sudut hatinya. Tersapu gelora asmara yang membara. Seluruh tubuhnya bergetar disertai rasa nikmat melambung tiada tara. Dia menyambut mesra ketika Dedi mulai melepas pakaiannya satu persatu dan mencium dengan gairah lekuk lekuk tubuhnya yang indah. Semua berjalan alamiah. Melayang dengan ringan, Dan napas mereka memburu. Ketika puncak itu datang, napas mereka mengendur dan dan ada rasa puas luar biasa. Jam setengah lima sore ketika mereka bangun. Cepat cepat memakai pakain mereka kembali. Ada rasa kecewa muncul dari dalam hati. Dan Rosa terisak sejenak.
"Tak apa apa Rosa. Telah berlalu. Kita akan tanggung bersama".
Ketika sampai rumah mama Kusuma agak terkejut melihat anak gadis pulang dengan wajah murung dan lusuh. "Apakah kau sakit nak?". Rosa tak menjawab. Pertanyaan itu tak perlu jawaban khusus. Pertanyaan rutin seorang ibu yang penuh perhatian terhadap putri satu satunya.
Hari hari berikutnya berlalu secara normal. Dedi dan Rosa semakin akrab dan mesra. Apa yang mereka lakukan di rumah Dedi hari minggu itu terulang berkali kali. Entah di rumah, entah di tampat peristirahatan, entah di rumah Rosa jika papa sama mama nggak ada dirumah. Hidup begitu indah bergairah. Papa dan mama Kusuma, orang tua Rosa ikut senang melihat putri mereka begitu bergairah. Hidup seolah dalam impian. Dua anak manusia saling terbuai dalam dalam asmara. Terbuai kenikmatan dan keindahan. Mereka tak yakin akan berjalan selamanya. Hanya mengikuti naluri semata.
***
Rosa tersentak dari lamunan ketika Tita menghambur menghampiri. Dia nampak sangat gembira berlari lari di atas rerumputan. Ketika rasa gatal menyentuh kulitnya karena rerumputan itu, Tita berlari menghampiri mamanya.
"Mama, sakit ma"
"Jangan berguling di rumput. Kulitmu nggak tahan. Minum dulu ya nak" Rosa mengelus tangan Tita sejenak.
"Mama saya pengin terbang seperti burung. Bernyanyi sepanjang hari"
" Tita bisa nyanyi. Tapi nggak bisa terbang. Besok naik pesawat kalau sudah besar".
"Sama siapa ma. Sama papa?"
"Iya sama mama nak. Saya janji".
Matahari telah hilang dibalik cakrawala. Rosa menghela napas mengingat peristiwa yang lalu. Hatinya bertekat ingin melupakannya. Hanya melihat ke depan. Masa depan bersama Tita. Hidup memang bukan impian.
Sunday, February 8, 2009
(9)Termangu Di Simpang Jalan
Mereka bertiga tiba di stasiun Tugu masih pagi benar. Kebetulan kereta tak terlambat. Menjelang jam empat sudah masuk Yogya. Tak ada suara hiruk pikuk. Tak ada jeritan penjaja makanan. Tak ada nyanyian burung. Nyanyian yang menggambarkan kedatangan kereta di Yogya, adalah lagu Sepasang Mata Bola. Tetapi lagu itu menngambarkan kedatangan kereta di sore hari. Hampir malam di Yogya. Ketika keretaku tiba. Remang remang cuaca. Terkejut aku tiba tiba. Tak enaklah mendendangkan lagu itu di pagi hari, pikir Bram. Irama refrainnya juga seperti kereta langsir.
Sebagian besar penumpang lelap tidur sepanjang perjalanan Hanya Bram yang tak mengejapkan mata. Pikirannya kalut. Hatinya gundah. Bingung apa yang harus dilakukan dengan Rosa. Hati sudah terlanjur lekat. Tak membayangkan sebelumnya jika Rosa sudah mempunyai anak. Sudah menjanda. Bagaimana dia harus mengatakan pada ibu dan bapaknya? Bagaimana dia harus membukanya di hadapan teman teman di kampus. Dia dikenal sebagai aktivis di kampus.
Keluar dari stasiun berjalan menuju pemberhentian becak. Parasto dan Sinambela, beranjak pergi, sambil mengingatkan Bram " Ketemu di kampus jam sepuluh". Dia hampir tak mendengar. Masih merenung termangu di simpang jalan di depan stasiun. Hawa dingin menusuk, menembus sweeter rajutan warna merah ungu yang dibelinya di Bandung beberapa waktu lalu. Akhirnya dia menghempaskan diri di kursi becak dan minta diantar ke alamat rumahnya di selatan. Terlena di atas becak.
***
Matahari sudah tinggi ketika Barm terbangun. Hampir jam delapan. Cepat cepat mandi. Kemudian minta pak Djo membuatkan kopi. Bapaknya sudah berangkat ke kantor diantar sopir, pak Mardi. Sejenak Bram membaca koran Kedaulatan Rakyat. Sambil minm kopi. Perhatiannya tertuju ke berita utama yang memuat pernyataaan Gubernur AKABRI. "Insiden terbunuhnya Rene adalah kemunduran besar dalam pembangunan generasi muda dan demokrasi". Bram tak punya minat untuk membacanya. Pernyataan tak akan mengembalikan nyawa korban.
" Kenapa sudah necis, mau ke kampus ?" Ibunya bertanya menyelidik.
" Hasil misi kami di Bandung harus dilaporkan Bu. Hari ini akan dibuat kebulatan tekat".
"Sempat mampir ke rumah Pakdhe Dewanto?"
"Tak sempat sayangnya. Habis dari kampus menemui keluarga Rene. Kami sempat bertemu dengan saudara saudaranya. Tantenya yang menemui kami. Saya sampaian duka sedalam dalamnya."
" Jika selesai acara rapat, cepat pulang ya Bram. Keadaan sedang panas. Berita di televisi, selalu mengabarkan bentrok mahasiswa dengan polisi. Selalu was was saya. Bapakmu juga selalu menanyakan kau dimana. Rupanya nggak tenang dia di kantor"
"Tenang saja Ibu. Memang suasana sedang panas. Kami nggak akan memancing kerusuhan".
" Biar diantar pak Mardi. Dia harus njemput bapakmu jam dua nanti. Jangan naik motor".
"Nanti Parasto mau nyamperin Bu. Sekalian mau bicara dulu tentang hasil misi ke Bandung. Bagaimana harus melaporkan".
"Kapan kalau nggak sibuk, hubungi nak Reni ya. Setiap ketemu selalu kirim salam untukmu".
" Nggak enak Bu dekat dekat sama Reni. Dia sudah punya calon. Seorang dokter. Sedang ambil spesialis kandungan".
"Apa? Yang bener kamu Bram. Saya kok nggak dengar apa apa dari ibunya ya?. Ibu Bram nampak terkejut sekali mendengar ucapan putranya. Bagaimana mungkin Reni sudah punya calon? Ibu Reni sobat karibnya selalu menanyakan tentang Bram dan tak pernah cerita apa apa. Dulu sih pernah bergurau, "Gimana kalau kita menjadi besan?". Tak perlu dirisaukan. Perjodohan hanya Tuhan yang tahu.
***
Dalam rapat di Pagelaran, Bram tak banyak bicara. Parasto melaporkan secara tuntas hasil pembicaraan dengan DEMA ITB. Tak perlu ditutup tutupi. Rene memang dibunuh. Tidak menjadi korban huru hara. Dia tak terlibat huru hara. Jelas dia dicegat, ditembak. Tubuhnya diseret ke atas truk yang mengangkut para calon polisi itu. Yang lebih membuat panas suasana karena versi polisi sangat berat sebelah. Mereka menutup nutupi keterlibatan para taruna calon polisi. Ketika mayatnya ditemukan di gudang kantor polisi, bukan mencari siapa yang mencampakkan tubuh malang itu di sana. Tetapi yang ditangkap dan ditahan adalah petugas polisi yang sedang jaga. Polisi pangkat rendah yang tak mampu berbuat apa apa melihat para taruna beringas itu menyeret tubun Rene yang penuh darah. Petugas jaga itupun telah lari menyelamatkan diri ketika mahasiswa ramai ramai masuk ke kantor polisi mencari korban.
Terjadi debat ramai oleh karena sebagian besar wakil mahasiswa menginginkan agar mahasiswa turun ke jalan. Akhirnya disepakati untuk membentuk panitia adhoc yang senantiasa akan memantau perkembangan situasi lebih lanjut. Khusunya bagaimana tindak lanjut secara hukum. Kekerasan telah menjadi dogma dan alat untuk mencapai segalanya.
Pikir Bram, entah sampai kapan kekerasan akan menjadi alat untuk menakut nakuti masyarakat demi kelangsungan kekuasaan. Apapun retorikanya. Entah itu demi stabilitas. Demi kelangsungan pembangunan manusia Indoinesia seutuhnya. Demi pertumbuhan ekonomi dan tinggal landas. Intinya sama saja. Kekuasaan dan penyelewengan. Moga moga tidak akan jatuh korban sia sial agi.
***
Pulang dari rapat Bram ragu ragu untuk terus pulang. Pikiran kalut. Mau kemana hari ini. Mau kemana masa depannya. Dengan siapa dia akan menjalani perjalanan ke depan? Dengan Rosakah? Tanpa rencana dia mnuju rumah Reni di Jeron Beteng. Moga moga dia nggak jaga di rumah sakit. Kemarin dulu dia bilang katanya sedang asistensi di THT.
"Hai mas Bram. Tumben mau datang ke sini? Katanya ke Bandung?" Reni menyambutnya ramah. Mereka duduk di belakang di bawah pohon jambu yang rindang. Bram dulu semasa kanak kanak sering sekali memanjat pohon itu, sementara Reni menunggu dibawah.
"Bapak sama ibu baru ke Solo, pulang besok. Saya sendirian sama simbok mas"
"Baru tadi pagi saya tiba dari Bandung. Hanya sehari di sana. Ke ITB kemudian mengunjungi keluarga Rene, mahasiswa ITB yang dibunuh taruna polisi beberapa hari lalu".
"Iya ceritanya gimana sih. Kejam amat dia disiksa ramai ramai kabarnya. Sampai badannya hancur. Benarkah itu mas Bram?"
"Sebagian besar ceritanya benar. Bagaimana kabarmu Reni ? Bagaimana kabar calonmu, dokter siapa?".
"Mas Herman? Dia baik baik saja. Tetapi serius sekali. Nggak pernah ngobrol hangat. Saya segan sama dia, tetapi kok rasanya begitu formal dan kaku ya"
"Reni, jangan menyesal. Anda sudah memutuskan. Jangan ragu. Keraguan akan membuat kita tak berjalan ke depan".
"Enggak ah. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Moga moga hanya butuh waktu untuk saling mengerti dan menyesuaikan. Omong omong, memangnya ada apa kok hari gini mau datang ke sini, mas Bram".
"Cuma pengin ngobrol saja. Rasanya kok kita nggak seperti dulu begitu bebas bercerita dan bercanda ya".
"Ya emangnya suruh seperti masa kanak kanak terus. Waktu kan terus berjalan".
"Reni, ada sesuatu yang akan saya ceritakan. Saya juga ingin dengar saranmu. Saya sedang kalut".
"Dengan senang hati saya akan membantu. Kita sudah saling membantu sejak kanak kanak mas Bram"
Bram menceritakan kisahnya dengan Rosa. Sejak perkenalan di bis malam sampai ke pertemuan di rumah. Lengkap dan lugas. Dia mengaku kalau benar benar jatuh hati dengan wanita yang dikenalnya di bis malam itu. Sudah begitu lekat dalam hatinya. Kemudian pertemuannya yang kedua kemarin. Hatinya begitu berbunga bunga ketemu Rosa kembali walau hanya sejenak. Namun tak disangka. Pengakuan Rosa telah membuatnya kalut dan gelap. Pengakuan bahwa dia seorang janda. Pengakuan tentang anaknya bernama Tita. Rosa belum menceritakan semuanya.
"Mas Bram,sulit saya memberikan saran. Bagi saya bukan masalah janda atau gadis. Masalahnya Mas Bram benar benar mencintai dia enggak. Kalau cinta dan mantap, berjalanlah terus. Kalau ragu, berhentilah sejenak. Lihatlah perjalanan anda ke belakang dan kedepannya.".
" Saya yakin mencintainya Reni. Keraguan saya bukan karena cinta atau tidak. Tetapi bagaimana menghadapi kenyataan. Kenyataan yang tidak selamanya bisa diterima".
Bram membayangkan bagaiman.a dia akan memberitahu bapak ibunya. Teman temannya mengenai Rosa.
"Mas Bram, berhentilah sejenak. Lihatlah sekeliling anda. Lihatlah ke belakang dan ke depan. Perjalanan masih panjang. Tak perlu membuat keputusan terburu buru". Reni berkata lirih, sementara matanya berkaca kaca. Dia dengan Bram sejak kecil selalu dekat. Dalam canda. Tetapi dalam situasi sulit seperti ini rasanya dia merasa dekat sekali. Dia memeluk erat Bram tanpa ragu. "Berhentilah sejenak mas Bram. Jangan terburu". Bram tak berkata sepatahpun. Pikirannya melayang. Reni memang dekat di hatinya sejak kanak kanak. Hubungan kerabat yang kental. Tetapi ada getaran lirih yang dalam kali ini. Getaran yang tak pernah terasakan sebelumnya. Pikirannya bingung membayangkan Rosa. "Rosa, Rosa mengapa kita harus ketemu?". Termangu di simpang jalan. Antara jalan bersama Rosa atau Reni.
Sebagian besar penumpang lelap tidur sepanjang perjalanan Hanya Bram yang tak mengejapkan mata. Pikirannya kalut. Hatinya gundah. Bingung apa yang harus dilakukan dengan Rosa. Hati sudah terlanjur lekat. Tak membayangkan sebelumnya jika Rosa sudah mempunyai anak. Sudah menjanda. Bagaimana dia harus mengatakan pada ibu dan bapaknya? Bagaimana dia harus membukanya di hadapan teman teman di kampus. Dia dikenal sebagai aktivis di kampus.
Keluar dari stasiun berjalan menuju pemberhentian becak. Parasto dan Sinambela, beranjak pergi, sambil mengingatkan Bram " Ketemu di kampus jam sepuluh". Dia hampir tak mendengar. Masih merenung termangu di simpang jalan di depan stasiun. Hawa dingin menusuk, menembus sweeter rajutan warna merah ungu yang dibelinya di Bandung beberapa waktu lalu. Akhirnya dia menghempaskan diri di kursi becak dan minta diantar ke alamat rumahnya di selatan. Terlena di atas becak.
***
Matahari sudah tinggi ketika Barm terbangun. Hampir jam delapan. Cepat cepat mandi. Kemudian minta pak Djo membuatkan kopi. Bapaknya sudah berangkat ke kantor diantar sopir, pak Mardi. Sejenak Bram membaca koran Kedaulatan Rakyat. Sambil minm kopi. Perhatiannya tertuju ke berita utama yang memuat pernyataaan Gubernur AKABRI. "Insiden terbunuhnya Rene adalah kemunduran besar dalam pembangunan generasi muda dan demokrasi". Bram tak punya minat untuk membacanya. Pernyataan tak akan mengembalikan nyawa korban.
" Kenapa sudah necis, mau ke kampus ?" Ibunya bertanya menyelidik.
" Hasil misi kami di Bandung harus dilaporkan Bu. Hari ini akan dibuat kebulatan tekat".
"Sempat mampir ke rumah Pakdhe Dewanto?"
"Tak sempat sayangnya. Habis dari kampus menemui keluarga Rene. Kami sempat bertemu dengan saudara saudaranya. Tantenya yang menemui kami. Saya sampaian duka sedalam dalamnya."
" Jika selesai acara rapat, cepat pulang ya Bram. Keadaan sedang panas. Berita di televisi, selalu mengabarkan bentrok mahasiswa dengan polisi. Selalu was was saya. Bapakmu juga selalu menanyakan kau dimana. Rupanya nggak tenang dia di kantor"
"Tenang saja Ibu. Memang suasana sedang panas. Kami nggak akan memancing kerusuhan".
" Biar diantar pak Mardi. Dia harus njemput bapakmu jam dua nanti. Jangan naik motor".
"Nanti Parasto mau nyamperin Bu. Sekalian mau bicara dulu tentang hasil misi ke Bandung. Bagaimana harus melaporkan".
"Kapan kalau nggak sibuk, hubungi nak Reni ya. Setiap ketemu selalu kirim salam untukmu".
" Nggak enak Bu dekat dekat sama Reni. Dia sudah punya calon. Seorang dokter. Sedang ambil spesialis kandungan".
"Apa? Yang bener kamu Bram. Saya kok nggak dengar apa apa dari ibunya ya?. Ibu Bram nampak terkejut sekali mendengar ucapan putranya. Bagaimana mungkin Reni sudah punya calon? Ibu Reni sobat karibnya selalu menanyakan tentang Bram dan tak pernah cerita apa apa. Dulu sih pernah bergurau, "Gimana kalau kita menjadi besan?". Tak perlu dirisaukan. Perjodohan hanya Tuhan yang tahu.
***
Dalam rapat di Pagelaran, Bram tak banyak bicara. Parasto melaporkan secara tuntas hasil pembicaraan dengan DEMA ITB. Tak perlu ditutup tutupi. Rene memang dibunuh. Tidak menjadi korban huru hara. Dia tak terlibat huru hara. Jelas dia dicegat, ditembak. Tubuhnya diseret ke atas truk yang mengangkut para calon polisi itu. Yang lebih membuat panas suasana karena versi polisi sangat berat sebelah. Mereka menutup nutupi keterlibatan para taruna calon polisi. Ketika mayatnya ditemukan di gudang kantor polisi, bukan mencari siapa yang mencampakkan tubuh malang itu di sana. Tetapi yang ditangkap dan ditahan adalah petugas polisi yang sedang jaga. Polisi pangkat rendah yang tak mampu berbuat apa apa melihat para taruna beringas itu menyeret tubun Rene yang penuh darah. Petugas jaga itupun telah lari menyelamatkan diri ketika mahasiswa ramai ramai masuk ke kantor polisi mencari korban.
Terjadi debat ramai oleh karena sebagian besar wakil mahasiswa menginginkan agar mahasiswa turun ke jalan. Akhirnya disepakati untuk membentuk panitia adhoc yang senantiasa akan memantau perkembangan situasi lebih lanjut. Khusunya bagaimana tindak lanjut secara hukum. Kekerasan telah menjadi dogma dan alat untuk mencapai segalanya.
Pikir Bram, entah sampai kapan kekerasan akan menjadi alat untuk menakut nakuti masyarakat demi kelangsungan kekuasaan. Apapun retorikanya. Entah itu demi stabilitas. Demi kelangsungan pembangunan manusia Indoinesia seutuhnya. Demi pertumbuhan ekonomi dan tinggal landas. Intinya sama saja. Kekuasaan dan penyelewengan. Moga moga tidak akan jatuh korban sia sial agi.
***
Pulang dari rapat Bram ragu ragu untuk terus pulang. Pikiran kalut. Mau kemana hari ini. Mau kemana masa depannya. Dengan siapa dia akan menjalani perjalanan ke depan? Dengan Rosakah? Tanpa rencana dia mnuju rumah Reni di Jeron Beteng. Moga moga dia nggak jaga di rumah sakit. Kemarin dulu dia bilang katanya sedang asistensi di THT.
"Hai mas Bram. Tumben mau datang ke sini? Katanya ke Bandung?" Reni menyambutnya ramah. Mereka duduk di belakang di bawah pohon jambu yang rindang. Bram dulu semasa kanak kanak sering sekali memanjat pohon itu, sementara Reni menunggu dibawah.
"Bapak sama ibu baru ke Solo, pulang besok. Saya sendirian sama simbok mas"
"Baru tadi pagi saya tiba dari Bandung. Hanya sehari di sana. Ke ITB kemudian mengunjungi keluarga Rene, mahasiswa ITB yang dibunuh taruna polisi beberapa hari lalu".
"Iya ceritanya gimana sih. Kejam amat dia disiksa ramai ramai kabarnya. Sampai badannya hancur. Benarkah itu mas Bram?"
"Sebagian besar ceritanya benar. Bagaimana kabarmu Reni ? Bagaimana kabar calonmu, dokter siapa?".
"Mas Herman? Dia baik baik saja. Tetapi serius sekali. Nggak pernah ngobrol hangat. Saya segan sama dia, tetapi kok rasanya begitu formal dan kaku ya"
"Reni, jangan menyesal. Anda sudah memutuskan. Jangan ragu. Keraguan akan membuat kita tak berjalan ke depan".
"Enggak ah. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Moga moga hanya butuh waktu untuk saling mengerti dan menyesuaikan. Omong omong, memangnya ada apa kok hari gini mau datang ke sini, mas Bram".
"Cuma pengin ngobrol saja. Rasanya kok kita nggak seperti dulu begitu bebas bercerita dan bercanda ya".
"Ya emangnya suruh seperti masa kanak kanak terus. Waktu kan terus berjalan".
"Reni, ada sesuatu yang akan saya ceritakan. Saya juga ingin dengar saranmu. Saya sedang kalut".
"Dengan senang hati saya akan membantu. Kita sudah saling membantu sejak kanak kanak mas Bram"
Bram menceritakan kisahnya dengan Rosa. Sejak perkenalan di bis malam sampai ke pertemuan di rumah. Lengkap dan lugas. Dia mengaku kalau benar benar jatuh hati dengan wanita yang dikenalnya di bis malam itu. Sudah begitu lekat dalam hatinya. Kemudian pertemuannya yang kedua kemarin. Hatinya begitu berbunga bunga ketemu Rosa kembali walau hanya sejenak. Namun tak disangka. Pengakuan Rosa telah membuatnya kalut dan gelap. Pengakuan bahwa dia seorang janda. Pengakuan tentang anaknya bernama Tita. Rosa belum menceritakan semuanya.
"Mas Bram,sulit saya memberikan saran. Bagi saya bukan masalah janda atau gadis. Masalahnya Mas Bram benar benar mencintai dia enggak. Kalau cinta dan mantap, berjalanlah terus. Kalau ragu, berhentilah sejenak. Lihatlah perjalanan anda ke belakang dan kedepannya.".
" Saya yakin mencintainya Reni. Keraguan saya bukan karena cinta atau tidak. Tetapi bagaimana menghadapi kenyataan. Kenyataan yang tidak selamanya bisa diterima".
Bram membayangkan bagaiman.a dia akan memberitahu bapak ibunya. Teman temannya mengenai Rosa.
"Mas Bram, berhentilah sejenak. Lihatlah sekeliling anda. Lihatlah ke belakang dan ke depan. Perjalanan masih panjang. Tak perlu membuat keputusan terburu buru". Reni berkata lirih, sementara matanya berkaca kaca. Dia dengan Bram sejak kecil selalu dekat. Dalam canda. Tetapi dalam situasi sulit seperti ini rasanya dia merasa dekat sekali. Dia memeluk erat Bram tanpa ragu. "Berhentilah sejenak mas Bram. Jangan terburu". Bram tak berkata sepatahpun. Pikirannya melayang. Reni memang dekat di hatinya sejak kanak kanak. Hubungan kerabat yang kental. Tetapi ada getaran lirih yang dalam kali ini. Getaran yang tak pernah terasakan sebelumnya. Pikirannya bingung membayangkan Rosa. "Rosa, Rosa mengapa kita harus ketemu?". Termangu di simpang jalan. Antara jalan bersama Rosa atau Reni.
Sunday, February 1, 2009
(8) Bouginvila ungu

Kereta seolah merambat. Berjalan terengah. Kadang menjerit kelelahan. Orang naik kereta malam selalu pengin cepat sampai ke tujuan. Tak ada yang bisa dilihat dari jendela. Hanya kegelapan malam. Mungkin bintang bintang di langit. Jjika tak ada awan menutup medan. Masih terang tanah ketika mereka sampai di stasiun Bandung. Masih terlalu pagi untuk terus menuju kampus. Bertiga mereka naik taksi menuju jalan Dago. Kakak Parasto seorang dosen di ITB dan tinggal di kompleks Sangkuriang. Bisa ikut mandi atau cuci muka sebelum ke kampus. Bram merasa sangat gerah karena semalam hampir tidak bisa memincingkan mata. Hanya tertidur sebentar saat kereta mendekati Bandung. Pikirannya galau, mungkin enggak menemui Rosa? Dia tak sempat memberi kabar. Tetapi rumahnya dekat Sangkuriang. Lihat saja nanti.
" Tok, kenapa nggak memberi kabar?" Kakak Parasto menyambut dengan nada terkejut. "Bapak ibu baik baik kan?" Permadi, kakak Parasto menjadi dosen di ITB. Seorang insinyur sipil, lulus doktor dari Perancis.
"Ada kepentingan mendadak. Kami akan menemui DEMA ITB. Mencari fakta sebenarnya mengenai meninggalnya Rene" Parasto menjawab singkat dan memperkenalkan Bram dan Sinambela.
" Kami hanya mampir, sore ini akan kembali ke Yogya. Bisa ikut mandi dan ganti pakaian ya?". Mereka duduk di kamar tamu sambil minum teh. Permadi selanjutnya memberikan penjelasan tanpa diminta.
" Nggak tahu kenapa mesti pertandingan segala. Maunya sih untuk persahabatan. Tetapi nyatanya orang nggak siap secara psikologis. Terlalu dipaksakan. Kesebelasan ITB selamanya nggak pernah menang, kok sekali ini menang. Anak anak keliahatannya menumpahkan rasa gembira dengan meledek taruna taruna itu"
"Apapun penjelasannya pembunuhan berdarah dingin itu nggak bisa diterima mas. Kami akan bergerak. Rejim ini sudah keterlaluan. Arogan dan korup". Sinambela menukas.
" Semua generasi muda pasti nggak senang dengan penguasa militer sekarang. Tetapi pendekatan konfrontatif, tak akan efektif dan makan korban. Mereka selalu heavy handed. Mahasiswa dan kalangan kampus selalu dicurigai".
Bram minta ijin untuk cuci muka di belakang sekalian ganti baju. Dia sengaja memakai baju hitam dan celana hitam. Tak sempat istirahat lama lama. Sesudah ganti pakaian, Bram dan Sinambela menunggu di ruang tamu, sementara Parasto bicara dengan kakaknya Permadi bersama isterinya, Nina. Urusan keluarga. Ada bunga bouginvila ungu di sudut halaman depan. Bunga warna ungu itu seolah selalu membawa keheningan yang dalam. Bram selalu mengagumi. Bouginvila warna ungu yang hening, mengingatkannya ke Rosa. Hatinya berdesir.
Jam setengah tujuh, Nina isteri Permadi berangkat mengantar kedua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar, berangkat ke sekolah. Bram menyapa ramah " Wah tugas rutin ya kak. Mengantar anak. Saya ambil segenggam boubinvilla ungu boleh nggak. Mau saya bawa ke kampus".
"Ngantar anak sih tugas bersama gantian sama mas Permadi. Dia baru ngobrol sama adiknya. Anak anak masuk sekolah jam tujuh. Silahkan kalau senang ambil bouginvila. Tetapi biasanya bouginvilla nggak untuk melayat lho".
"Terima kasih, nanti kami beli mawar sama sedap malam juga di Dago. Sekalian pamitan kalau nanti nggak sempat mampir kak Nina".
Menjelang jam delapan mereka berangkat ke kampus Ganesa, sekalian sama Dr Permadi berangkat kantor. Kantornya juga di kampus yang sama. Mereka mampir beli bunga. Bunga mawar, melati dan sedap malam. Bunga bunga itu dirangkai rapi dengan bouginvila ungu yang diambil dari halaman rumah Permadi tadi.
Mereka langsung menuju ke ruang Dewan Mahasiswa. Bertemu dengan ketua dan beberapa anggota pengurus. Semua dalam keadaan tegang dan sedih. Parasto atas nama seluruh mahasiswa Gadjah Mada, mengungkapkan rasa duka sedalam dalamnya atas gugurnya Rene. Dia juga menjelaskan maksud kedatangannya di Bandung untuk menyatakan dukungan bagi pihak mahasiswa ITB dan mencari fakta tentang kejadian tragis itu.. Penjelasan yang diperoleh dari pihak DEMA ITB singkat dan jelas. Rene Louis Conrad tidak terlibat dalam huru hara pertandingan sepak bola. Dia masih mondar mandir di muka kampus dengan Harley Davidsonnnya ketika truk rombongan taruna kepolisian itu keluar dari kampus. Beberapa saksi mengatakan kalau dia dihentikan oleh sekelompok taruna yang turun dari truk. Ketika dia berhenti beberapa taruna mendekatinya, dan tiba tiba saja salah salah seorang taruna menembak Rene dari belakang. Dia roboh dan langsung dinaikkan ke truk dan dibawa pergi. Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu kemudian ramai ramai mencari Rene.. Kisah selanjutanya sama persis seperti yang mereka terima sebelumnya. Mayat Rene ditemukan di gudang salah satu kantor polisi di kota Bandung. Dia meninggal kehabisan darah tanpa memperoleh pertolongan.
Setelah berdiskusi beberapa lama, mereka sepakat agar kasus pembunuhan ini diusut secara tuntas dan yang bertanggung jawab dibawa ke pengadilan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Namun dalam pembicaraan itu, ada rasa pesimis yang membayangi. Salah satu taruna yang terlibat pembunuhan adalah anak seorang petinggi militer. Kemungkinan akan ada skenario untuk menghindarkan proses hukum. Sesudah diskusi mereka bertiga diantar untuk meihat tempat di mana Rene ditembak di muka kampus. Masih banyak mahasiswa berkumpul di sana. Beberapa karangan bunga terserak di tepi jalan. Bram, Parasto dan Sinambela bersama dengan beberapa teman dari DEMA ITB mengheningkan cipta ditempat itu. Karangan bouginvila ungu, mawar, sedap malam dan melati diletakkan di tempat Rene gugur.
"Selamat jalan kawan. Selamat jalan anak muda. Semoga pengorbananmu tidak pernah sia sia. Semoga kekerasan dan kesombongan tidak akan menjadi alat kekuasaan. Beristirahatlah dalam keheningan yang abadi. Dalam damai. "
Tiba tiba seorang dengan kamera ditangan mendatangi mereka. Memperkenalkan diri sebagai koresponden radio Australia dan menanyakan sikap dan tindakan mahasiswa lebih lanjut setelah peristiwa pembunuhan itu. Ketua DEMA ITB menjelaskan peristiwa yang terjadi, Di akhir pembicaraan, Bram menyela " There are no appropriate words to describe this barbaric and coward murder. We will keep demanding that those who are responsible be brought to justice. Oppression and arrogance of this military regime will not last forever".
Setelah selesai acara di kampus, mereka diantar untuk berkunjung ke keluarga Rene di Bandung atas. Rumah dengan pekarangan luas di tepi jalan menuju ke Lembang. Masih banyak kerabat korban yang berkumpul di sana. Mereka ditemui oleh tante Rene, adik papa Rene. Bram atas nama segenap mahasiswa Gadjah Mada menyampaikan duka sedalam dalamnya dan berharap agar keluarga yang ditinggal selalu diberi ketabahan. Melihat tante Rene, Bram tak bisa menahan rasa iba. Kesedihan yang dalam dan putus asa nampak membayang diwajahnya. Dia peluk seolah dia memeluk ibunya. "Tante sekeluarga mohon tabah ya. Kami akan berdoa untuk Rene dan akan mengenang dia selamanya". Tak mampu menahan air matanya ketika mengucapkan kata kata itu. Sesaat dia ingat ibunya.
Jam tiga seluruh acara selesai. Mereka akan pulang malam itu juga dengan kereta ke Yogya. Masih ada waktu beberapa jam oleh karena kereta berangkat jam tujuh. Parasto mengajak mereka kembali dulu ke Sangkuriang, bisa istirahat sejam dua jam di sana. Mereka bertiga naik opelet lewat jalan Dago. Seharusnya turun di depan pasar Simpang. Namun Bram berkata " Saya akan ke Dago Bukit. Ke tempat pakdhe saya. Mungkin nanti ketemu saja di stasiun ya. Jam setengah tujuh".
Tiba tiba saja keinginan itu muncul. Dia ingin menemui Rosa. Tetapi dia belum memberitahu sebelumnya. Agak bimbang sebenarnya. Biar sajalah. Coba dulu ke rumah Rosa. Kalau nggak ketemu, terus ke tempat pakdhe Dewanto. Matahari masih memancar cerah sore itu, baru menjelang pukul empat. Angin semilir menghembus ringan mengurangi panas matahari musim kering. Dan Bram berjalan kembali di jalan itu di Cisitu. Menuju rumah nomer sebelas dengan bunga bunga kembang sepatu di pagar halamannya. Agak ragu ketika dia memencet bel.
" Gan, selamat sore. Mau ketemu sama ibu Pipit?" Pembantu membukakan pintu dan menyapanya ramah. "Kebetulan dia seharian nggak keluar. Silahkan masuk gan".
Bram memasuki pekarangan yang asri itu. Langsung menuju ke ruang tamu disamping rumah utama. Di tempat dimana dia beberapa minggu lalu berduaan dengan Rosa. Menunggu beberapa saat di kursi tamu. Suasana sepi tak terdengar kesibukan sama sekali. Sesaat kemudian Rosa muncul dengan baju warna hijau muda. Warna segar dan cerah. Nampak cantik dan ceria. Dia bangun menyambutnya. Dia kasih salam dan pelukan seolah sudah kenal lama sekali.
"Tak ada kabar sama sekali Bung Bram. Surat ku sampai enggak ya?" dia menyapa riang.
"Ada keperluan mendadak. Kami mengunjungi teman teman di ITB untuk mencari fakta pembunuhan kemarin dulu".
"Iya suasana tegang sejak peristiwa itu. Dua hari ini workshop saya tutup. Dari pada ada resiko. Mahasiswa dan anak anak muda marah sekali. Mereka lalu lalang di jalan. Moga moga cepat terselesaikan secara tuntas".
"Kami bertiga, malam nanti harus pulang dengan kereta jam tujuh. Ada waktu sebentar saya kesini pengin menemuimu"
'Terima kasih mau menyempatkan ke sini. Banyak yang ingin saya ceritakan sebenarnya jika anda punya waktu cukup".
"Take it easy. Saya akan mendengarnya. Jika belum mantap tak perlu cerita sekarang. Besok masih ada waktu lebih baik Rosa".
"Saya tak merasa tenang sebelum cerita ke anda Bung. Ini masalah prinsip. Masalah tentang kehidupan".
"Terserah mana yang terbaik buat anda Rosa. Saya tidak memaksamu. Saya siap mendengarnya".
Sejenak Rosa terdiam. Menarik napas dalam dalam menahan gejolak perasaannya.
"Maaf bung Bram, saya tak cerita sejak awal sewaktu anda ke sini dulu. Saya seorang janda. Perpisahan kami resmi diijinkan pengadilan belum ada enam bulan lalu. Saya bersama putri saya Tita. Dia baru dua tahun lewat"
Bram tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia sama sekali tak mengira apa yang diungkapkan Rosa. Dia terdiam beberapa saat menata pikiran. Pelan pelan dia berkata.
"Tak ada yang perlu disesali Rosa. Hidup adalah perjalanan. Perjalanan panjang ke depan. Banyak kemungkinan peristiwa terjadi dalam perjalanan."
" Hanya masa depan Tita yang menjadi impian saya Bung Bram. Saya tidak akan menyerah berjuang demi dia"
"Masih banyak kesempatan untuk bercerita. Jangan ceritakan semuanya saat ini"
Mereka duduk bersama sore itu. Tak banyak pembicaraan. Masing masing tenggelam dalam gejolak pikiran dan perasaan masing masing. Ada rasa kecewa menyelinap di hati Bram. Mengapa dia mesti mampir menemui Rosa kali ini. Masih ada kesempatan yang lebih baik. Akhirnya dia menutup gejolak perasaanya sendiri "Hidup memang sebuah perjalanan. Kadang kadang bertemu dengan sesuatu di luar rencana manusia. Biarlah segalanya berjalan seperti air mengalir".
Jam enam Bram pamitan. Dia salami tangan Rosa dengan erat. Pikirannya tak karuan saat itu. Tetapi tanpa dia sadari dia memeluk Rosa erat sekali. "Biarlah semuanya berjalan alamiah. Tak perlu kita paksakan. Kita saling berdoa Rosa. Moga moga terbuka jalan terang buat kita". Rosa menjawab lirih. "Maaf kalau anda kecewa. Hati hati di jalan. Saya akan tulis selengkapnya". Bram berjalan gontai meninggalkan rumah itu. Di ujung jalan dia menengok ke belakang. Rosa melambaikan tangan. Bram bertanya dalam hati " Apakah saya harus kehilangan dia?
Subscribe to:
Posts (Atom)